Tuesday, July 5, 2011

Apa sih Hematologi itu?


Hematologi adalah cabang ilmu kesehatan yang mempelajari darah, sel-sel darah meliputi pembentukan, fungsi, morfologinya baik fisiologis maupun patologis, organ pembentuk darah dan penyakitnya. Hematologi berasal dari kata Yunani ἁίμα (haima) yang berarti "darah" dan λόγος (logos) yang berarti "ilmu". Secara singkat hematologi artinya ilmu darah.
Hematologi merupakan cabang dari bidang kesehatan, fisiologi, patologi, bagian dari laboratorium klinis, dan pediatri yang berkaitan tentang darah, organ pembentuk darah, dan penyakit darah. Hematologi mencakup etiologi, diagnosis, pengobatan, prognosis, dan pencegahan penyakit darah. Pekerja laboratorium yang termasuk dalam bidang tentang darah sering dilakukan oleh teknisi medis terutama Analis Laboratorium Kesehatan. Dokter Ahli Darah juga sangat sering melakukan studi lebih lanjut di onkologi pengobatan kanker medis.
Dokter spesialis dalam hematologi dikenal sebagai Ahli Darah. Pekerjaan rutinnya terutama mencakup perawatan dan pengobatan pasien penyakit hematologi, bekerja di laboratorium hematologi darah dan melihat lapang pandang hapusan sumsum tulang, slide darah, di bawah mikroskop, menafsirkan berbagai hasil tes hematologi, dsb. Di beberapa lembaga, Ahli Darah juga mengelola laboratorium hematologi. Dokter yang bekerja di laboratorium hematologi,
dan paling sering mengelola mereka, adalah patolog spesialis dalam diagnosis penyakit hematologi, disebut sebagai hematopathologists. Ahli Darah dan hematopathologists umumnya bekerja bersama untuk merumuskan diagnosa dan memberikan terapi yang paling tepat jika diperlukan. Hematologi adalah subspesialisasi berbeda dalam ilmu penyakit dalam, yang terpisah  tetapi tumpang tindih dengan subspesialisasi onkologi medis. Ahli Darah mungkin lebih spesifik  atau memiliki keahlian khusus, misalnya dalam:
  1. Mengobati gangguan perdarahan seperti hemofilia dan purpura idiopatik thrombocytopenic
  2. Mengobati malignacies hematologi seperti limfoma dan leukemia
  3. Mengobati hemoglobinopathies
  4. Dalam ilmu transfusi darah dan pekerjaan bank darah
  5. Dalam sumsum tulang dan transplantasi sel induk

Trombosit di atas normal

Penyakit dengan kadar trombosit lebih dari normal (150-450) dikenal sebagai penyakit trombositosis. Trombositosis  dibagi menjadi 2 yaitu esensial dan reaktif. Jika menggunakan obat, trombosistosis didiagnosa sebagai 'trombositosis esensial'. Artinya ada gangguan pada sumsum tulang yang menyebabkan peningkatan pembentukan trombosit, pada orang tua kerap terjadi 'myeloproliferatif disease', terjadi gangguan pada sumsum tulang, sering juga dikatakan sebagai lesi prekanker.
Hydrea  digunakan untuk menekan produksi di sumsum tulang (membuat trombosit menjadi normal), bahayanya, bisa terjadi penurunan jumlah di semua komponen darah. Maka itu sebelum penggunaan hydrea harus dilakukan kontrol di laboratorium lalu ke dokter.
Trombositosis reaktif, biasanya hanya sementara dan terjadi akibat peningkatan produksi akibat adanya perdarahan atau penggunaan trombosit yang lebih dari biasa. Sebaiknya berkonsultasi pada Ahli Penyakit Dalam (Konsultan Hematologi dan Onkologi Medik) untuk diperiksa sumsum tulangnya, dan diketahui lebih mendetail penyebabnya.

Bagaimana cara bershalawat?


Dari Ka'ab bin 'Ujrah radhiyallaahu 'anhu, ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam :
"Bagaimana cara bershalawat kepada kamu wahai Rasulullah?"

...Dalam riwayat lain :
"Ya Rasulullah, sesungguhnya kami telah mengetahui bagaimana caranya kami mengucapkan salam kepadamu, maka bagaimanakah cara kami bershalawat kepadamu?"
Beliau menjawab,
"Allahumma sholli 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad kama shollaita 'ala Ibrahim wa 'ala ali Ibrahim innaka hamidun majid. Allahumma baarik 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad kama baarakta 'ala Ibrahim wa 'ala Ibrahim innaka hamidun Majid."
(HR. Bukhari, no. 3370, Fat-hul Baari, VI/408, Muslim, no. 406, Abu Dawud, no. 976, 977, 978, at-Tirmidzi, no. 483, an-Nasa-i, III/47 - 48, Ibnu Majah, no. 904, Ahmad, IV/243 - 244, ad-Daarimi, no. I/309, ath-Thayaalisi, hal. 142, no. 1060, 'Abdurrazaq, II/212, no. 3105, 3106, Ibnu Abi Syaibah, II/507, al-Humaidiy, no. 711, Ath-Thahawi, III/72, 73, Ibnu Jaarud, no. 206, asy-Syafi'i, dalam al-Umm, I/140, Ibnu Hibban, no. 900, 1948, 1955, ath-Thabrani, XIX, hal. 166, no. 124 - 133, Abu Nu'aim, IV/356, al-Baihaqi, II/148)

Dari hadits ini tidak ada tambahan lafazh "sayyidina" maka tambahan dengan lafazh seperti ini tidak ada contoh, tuntunan dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para Shahabatnya maka termasuk perkara bid'ah yang tercela.
Sebab lafazh dzikir dan shalawat adalah bersifat paten atau tauqif.

Sunday, July 3, 2011

Penyebab Bakteri dapat resisten terhadap obat

image source : mtlaworld

Resistensi adalah suatu sifat tidak terganggunya kehidupan sel mikroorganisme oleh antibiotika (Setiabudy dan Gan, 1987:514).
Resistensi atau kepekaan sebenarnya bukanlah sifat yang mutlak tetapi bisa juga perubahan pada penggunaan konsentrasi antibiotika. Sifat ini merupakan mekanisme yang alamiah untuk bertahan hidup. Sifat resistensi bakteri terhadap antibiotika yang terdapat pada gen maka dikenal dengan resistensi yang disebabkan non-genetik atau disebabkan genetik.
Penyebab resistensi secara umum adalah sebagai berikut :
1. Penyebab non-genetik
2. Penyebab genetik
a. Resistensi kromosal
b. Resistensi ekstrakromosal
• Plasmid 
 Faktor R (Gen Resisten)
 Faktor F (Fili Sex)
 Toksin


• Bakteri sferoplas yang telah kehilangan dinding selnya maka akan resisten terhadap antibiotik yang merusak dinding sel seperti penisilin dan sefalosporin. Ini terjadi karena bakteri telah berubah strukturnya sehingga bakteri sebagai target antibiotik menjadi tidak cocok.



Contoh : Bakteri Streptococcus pneumoniae merubah struktur ribosomnya sehingga tidak dicocok lagi sebagai target antibiotik eritromisin
b. Resistensi ekstrakromosomal
Resistensi ekstrakromosomal sering disebut plasmid. Plasmid adalah molekul DNA yang bulat/ sirkuler. Ciri-ciri plasmid :
1. Kira-kira memepunyai berat 1-3% dari kromosom bakteri
2. Berada bebas dalam sitoplasma bakteri
3. Adakalanya dapat bersatu ke dalam kromosom bakteri
4. Dapat melakukan replikasi sendiri secara otonom
5. Dapat pula berpindah atau dapat dipindahkan dari spesies ke spesies lain
Beberapa contoh dari plasmid adalah :
 Faktor R (Gen Resisten)
Faktor R adalah satu golongan plasmid yang membawa gen-gen resisten terhadap satu atau lebih antibiotik. Gen dalam plasmid yang sering kali menyebabkan resistensi obat dengan memproduksi enzim-enzim yang dapat merusak daya kerja obat. 
Contoh : Bakteri Staphylococcus aureus pada gennya mengandung faktor R yang terdapat gen untuk replikasi mengatur sintesis protein yang mengkode enzim enzim β-laktamase yang dapat merusak struktur β-laktam pada penisilin.
 Faktor F (Fili Sex)
Bakteri Gram negatif umumunya memiliki fili pada struktur tubuhnya. Fili merupakan rambut pendek dan keras di sekililing bada sel bakteri Fili terdiri dari subunit-subunit protein. Terdapat dua jenis fili :
1. Fili yang memegang peranan dalam adhesi kuman dengan tubuh hospes
2. Fili seks, yaitu fili yang berfungsi dalam konjugasi 2 sel bakteri.
Fili seks inilah yang berperan dalam konjugasi terhadap bakteri lain dan memberikan gen resisten pada suatu antibiotik.
Contoh : E. coli, Salmonella, Shigella, Klebsiella, Serratia, Vibrio cholerae dan Pseudomonas dengan cara konjugasi memberikan gen resisten melalui fili sex sehingga resisten pada aminoglikosida, tetrasiklin, kloramphenikol dan penisilin.



 Toksin

2. Penyebab genetik

1. Penyebab non-genetik

Beberapa toksin dari bakteri merupakan produk dari plasmid sehingga toksin yang dihasilkan bakteri menghambat antibiotik untuk bekerja membunuh bakteri.

Resistensi genetik yaitu suatu keadaan mikroorganisme yang semula peka terhadap suatu antibiotik pada suatu saat dapat berubah sifat genetiknya menjadi tidak peka atau memerlukan konsentrasi yang lebih besar. Perubahan ini karena gen bakteri mendapatkan elemen genetik yang terbawa sifat resistensi. Yaitu resistensi bakteri yang terjadi karena perubahan genetik meliputi kromosom maupun ekstra kromosom. Perubahan genetik dapat ditransfer atau dipindahkan dari satu spesies bakteri ke spesies lainnya melalui berbagai mekanisme.

Resistensi non-genetik adalah suatu keadaan bakteri pada stadium istirahat, sehingga bakteri tidak peka terhadap antibiotik. Atau dengan kata lain, antibiotik yang bekerja untuk membunuh bakteri pada saat aktif pembelahan maka populasi bakteri yang tidak berada pada fase pembelahan akan relatif resisten terhadap antibiotik tersebut. Resistensi non-genetik umumnya terjadi karena perubahan pada pertahanan tubuh bakteri itu sendiri atau perubahan struktur bakteri sehingga tidak sesuai lagi sebagai target antibiotik. 

Contohnya : Pada kasus diare yang disebabkan bakteri Escherichia coli pemberian antibiotik justru memperparah diare karena Escherichia coli yang menghasilkan toksin enteroksigenik sehingga antibiotik sendiri bisa menyebabkan diare dan mendorong timbulnya bakteri yang resisten.

a. Resistensi kromosomal

Contoh :

Resistensi kromosomal bakteri terhadap antibiotik dapat terjadi karena adanya mutasi DNA yang mengontrol kecocokan (susceptibility) terhadap obat tertentu. Resistensi bakteri terhadap antibiotik yang mempunyai sebab genetik kromosal terjadi secara spontan, misalnya karena terjadi mutasi spontan terhadap lokus DNA (Deoksi Nukleat Acid) yang mengontrol kecocokan (susceptibility) terhadap antibiotik tertentu.

• Bakteri Tuberkulosis yang menginfeksi di dalam jaringan yang tidak membelah aktif pada saat pemberian antibiotik sehingga terjadi mekanisme pertahanan tubuh bakteri maka akan resisten terhadap antibiotik tersebut. Lalu karena suatu hal maka diberikan kortikosteroid yang menyebabkan daya tahan bakteri menurun sehingga bakteri yang tadi belum membelah aktif lalu memebelah aktif lagi sehingga antibiotik dapat membunuh bakteri Tuberkulosis.