Showing posts with label KIMIA KLINIK. Show all posts
Showing posts with label KIMIA KLINIK. Show all posts

Friday, October 13, 2017

Urin berwarna hijau


Urin berwarna hijau
Siapa yang pernah nemu urin warna hijau ayo tunjuk tangan?
Sebenarnya urin berwarna hijau itu biasanya tidak berbahaya, sering terjadi pada orang-orang yang mengkonsumsi obat tertentu, makanan, dan minuman dengan pewarna buatan. Tapi pada kasus yang terjadi, misalnya infeksi saluran kemih oleh Pseudomonas aeruginosa dapat menyebabkan urin menjadi hijau juga.

Saturday, October 7, 2017

Wadah untuk menampung spesimen urin


Wadah untuk menampung spesimen urin sebaiknya terbuat dari bahan plastik, tidak mudah pecah, bermulut lebar, dapat menampung 10-15 ml urin dan dapat ditutup dengan rapat. Selain itu juga harus bersih, kering, tidak mengandung bahan yang dapat mengubah komposisi zat-zat yang terdapat dalam urin.

Tripel fosfat


Tripel fosfat adalah salah satu kristal yang dapat dijumpai pada urin normal. Kristal ini berbentuk prisma empat persegi panjang seperti tutup peti mati (kadang-kadang juga berbentuk seperti daun atau bintang), tripel fosfat tak berwarna dan larut dalam asam cuka encer. Tripel fosfat dapat ditemukan pada semua pH, namun pembentukan kristal ini pada pH netral ke basa. Kristal dapat muncul di urin setelah mengkonsumsi makan tertentu (buah-buahan). Infeksi saluran kemih oleh bakteri penghasil urease (missal : Proteus vulgaris) dapat mendukung pembentukan kristal hingga menjadi urolithiasis (batu ginjal) dengan meningkatkan pH urin dan meningkatkan amonia bebas.

Friday, January 1, 2016

Tripel fosfat


Tripel fosfat adalah salah satu kristal yang dapat dijumpai pada urin normal. Kristal ini berbentuk prisma empat persegi panjang seperti tutup peti mati (kadang-kadang juga berbentuk seperti daun atau bintang), tripel fosfat tak berwarna dan larut dalam asam cuka encer. Tripel fosfat dapat ditemukan pada semua pH, namun pembentukan kristal ini pada pH netral ke basa. Kristal dapat muncul di urin setelah mengkonsumsi makan tertentu (buah-buahan). Infeksi saluran kemih oleh bakteri penghasil urease (missal : Proteus vulgaris) dapat mendukung pembentukan kristal hingga menjadi urolithiasis (batu ginjal) dengan meningkatkan pH urin dan meningkatkan amonia bebas.

Wednesday, December 23, 2015

Cairan Tubuh

ilustrasi : www.tipshacker.com
Cairan tubuh memiliki komposisi yang sangat beragam, namun masing-masing cairan tubuh menghasilkan elemen-elemen yang khusus. Cairan tubuh sangat ditentukan oleh air dan elektrolit dalam mengatur berbagai komposisi cairan dan sirkulasi di dalam tubuh. Air dan elektrolit memiliki peran yang krusial di berbagai proses metabolisme. Air masuk kedalam tubuh melalui minuman dan atau makanan dan bisa juga melalui proses metabolisme seluler. Sebagai contoh, air dari oksidasi bisa menghasilkan sekitar 300 mL air per hari. 

Persentase total cairan tubuh berbeda-beda, sesuai dengan kondisi tubuh seseorang dan dipengaruhi oleh umur, kondisi lemak tubuh, jenis kelamin, dll. Perbedaan persentase cairan tubuh berdasarkan umur :
  1. Bayi (baru lahir) = 75%
  2. Dewasa 
    • Pria (20-40 tahun) = 60 %
    • Wanita (20-40 tahun) = 50 %
  3. Usia Lanjut = 45-50%
Cairan tubuh dibagi menjadi :
1. Cairan intraseluler (di dalam sel) sekitar 65%
2. Cairan ekstraseluler (di luar sel), sekitar 35%

Cairan ekstraseluler dapat dibagi lagi menjadi :
1) Cairan interstitial (di antara jaringan), sekitar 25%
2) Cairan transelular (cairan sekresi khusus di dalam berbagai rongga tubuh seperti cairan serebrospinal, cairan intraokuler, sekresi saluran cerna, membran serosa, cairan lambung, kandung kemih, dsb), sekitar 1-2%
3) Cairan intravaskuler (plasma), sekitar 5-8%

Cairan biasanya bergerak di dalam tubuh karena berbagai kondisi tertentu dan kondisi tubuh. Komposisi elektrolit dan enzim pada cairan intraseluler berbeda dengan cairan ekstraseluler, sehingga memahami perbedaan ini dapat membantu dalam memahami proses penyakit. Misalnya, kadar kalium lebih tinggi di dalam sel daripada di luar sel dan kadar natrium juga berbeda antara cairan intraseluler dan cairan ekstraseluler, namun pada kondisi tertentu karena dipengaruhi oleh batas membran dan jaringan, maka konsentrasinya dapat berubah. Dengan melakukan pemeriksaan kimia dan pemeriksaan elemen seluler, dapat membantu mendiagnosis dan memantau kondisi pasien. Secara umum, pemeriksaan cairan tubuh bermanfaat untuk menilai peradangan, infeksi, keganasan, dan perdarahan.

Saturday, December 12, 2015

Kimia Klinik seri 1



Judul : Kimia Klinik seri 1
Penulis : Dedy Arianda, Amd.AK, S.Si
Penerbit : AM-Publishing
Tahun : Rabi’ul Awwal 1436 H/ Desember 2015
Tebal : 119 halaman
Ukuran : 14x20 cm
Harga : Rp. 40.000,-

ATLM/Analis Kesehatan kekurangan referensi dan buku-buku tentang Laboratorium Medik, nah Tim kita sekarang lagi berjuang untuk menulis sebanyak-banyaknya buku-buku yang update dan modern tentangTeknologi Laboratorium Medik - TLM. Dan alhamdulillah sekarang baru selesai buku Kimia Klinik seri 1, yang sebelumnya juga kita sudah menjual Buku Saku Analis Kesehatan. Jadi, di buku baru ini lebih enak dilihat dan dipelajari. Yuk order buku yang baru banget dirilis ini :)

Daftar Isi :

Kata Pengantar 4
Daftar Isi 5
Pendahuluan 6
SISTEM URINARIA 8
Letak Ginjal 10
Struktur dan Bagian-bagian Ginjal 11
Sirkulasi Darah Di Ginjal 15
Persyarafan Ginjal 18
Mekanisme Pembentukan Urin 18
PEMERIKSAAN URINALISA 22
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada pemeriksaan urin. 23
Tujuan Pemeriksaan Urin. 24
Jenis sampel urin. 25
Wadah Spesimen. 27
Prosedur Pengumpulan. 27
Pengawet Urin. 34
Pemeriksaan Makroskopis Urin. 36
Pemeriksaan Mikroskopis Urin. 47
Pemeriksaan Kimia Urin. 75
Pemeriksaan Carik Celup. 100
Pemeriksaan Kultur Urin. 106
Pemeriksaan GFR. 108
Pemeriksaan Fungsi Tubulus 114
Daftar Pustaka. 118
Sumber Gambar 119 


Contoh Isi buku :








Beli langsung via Whatsapp klik di sini

CARA BELI DAN DAFTAR BUKU LAINNYA LIHAT DISINI

Perhatian Penting :

  1. Pemesanan harus menggunakan format yang benar, wajib menyertakan kode pos. 
  2. Menulis alamat selengkap mungkin agar paket pengiriman lebih cepat sampai tujuan 
  3. Pembayaran dilakukan setelah mendapatkan balasan pemesanan sesuai format 
Pemesanan dilakukan dengan cara :
Pertama kirim pesan dengan format : BKK#JUMLAH#NAMA#ALAMAT#KODEPOS#TELP kirim ke : 085697529868 (SMS/WA) atau pin BB (767BDB81)

harga 1 buku = Rp 40.000 (Belum termasuk Ongkos Kirim, dapat dikirim ke seluruh wilayah Indonesia melalui POS/ JNE)

Cara Pembayaran :
Pembayaran dilakukan setelah mendapatkan balasan pemesanan sesuai format di atas. Pembayaran dapat dilakukan melalui rekening berikut:

BANK BRI : A.N. Dedy Arianda = 7313-01-003219-53-9
atau
BANK MANDIRI : A.N. Dedy Arianda = 900-00-0778569-5
atau
BANK BTN : A.N. Dedy Arianda 00535-01-61-000274-8

Setelah melakukan pembayaran melalui No. Rekening di atas, kami mohon Anda segera melakukan konfirmasi dengan menyertakan NOMINAL dan TUJUAN BANK TRANSFER (BRI/MANDIRI/BTN) kepada kami melalui no: 085697529868 (SMS/WA) atau pin BB (767BDB81) agar pengiriman barang dapat lebih cepat lagi kami lakukan. Setelah konfirmasi dari Anda kami terima, Insya Allah kami langsung mengirimkan buku pesanan Anda.
Terimakasih.



Spesimen pediatrik

Spesimen pediatrik  adalah sampel urin yang diambil dari anak-anak dengan wadah khusus dikarenakan pengambilan urin pada anak-anak terkadang agak sulit. Pengambilan spesimen pediatrikdibutuhkan peralatan yang lembut,kantong plastik dengan perekat kulit yang hypoallergenic untuk melekat pada daerah genital dari  anak laki-laki maupun perempuan pada saat mengumpulkan spesimen rutin.Prosedur pembersihan dan tempat penampung spesimen harus sterildan tidak menyentuh bagian dalamtempat penampungan ketika memasangnya. Untuk pengujian kuantitatif, tempat penampungan sampel yang tersediaharus memudahkan tabunglain  terpasang dan dapat dipindahkan ke wadah yang lebih besar.Persyaratan dari alat penampung spesimen pediatrik adalah :
ü Alat penampung harus tertutup rapat pada saat penampungan urin, dengan bentuk cocok disesuaikan dengan anatomi anak
ü Alat penampung didesain untuk memudahkan proses pengambilan urin pada pasien anak kecil atau pasien yang memerlukan perlakuan yang sama.
ü Permukaan perekat menahan dengan aman, mudah dilepas dan dilipat sehingga aman ketika jatuh dan dikirim ke laboratorium.
ü Desain yang cocok untuk bayi perempuan dan laki-laki.
ü Diproses dari bahan medis dengan perekat rendah alergi yang tidak menyebabkan iritasi pada kulit halus dari bayi
ü Steril,  tidak toksik dan bebas penyakit.
Prosedur pengambilan spesimen pediatrik :
1)  Untuk bayi dan anak kecil, penampung urin khusus dilekatkan ke kulit sekeliling area uretal.
2) Ketika penampungan selesai, urin dituang ke dalam gelas penampung atau dipindahkan langsung kedalam tabung sementara dengan selang perantara. Urin yang diperoleh dari popok tidak direkomendasikan untuk pemeriksaan karena kontaminasi dari bahan popok yang dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan. 

Tuesday, January 14, 2014

Cara mengontrol gula darah

Banyak penderita DM yang merasa putus asa ketika mengetahui dirinya sudah divonis DM. Apalagi dengan banyaknya komplikasi DM yang sangat mengerikan bahkan banyak berakhir dengan kematian. Namun ternyata hal tersebut dapat dicegah asalkan disiplin dalam mengontrol gula darah. Berikut cara pengontrolan kadar gula darah yang meliputi : 

1.Penjagaan makanan. Penderita sebaiknya mengonsumsi makanan dengan karbohidrat rendah dan lambat menjadi gula. Perbanyak mengonsumsi buah dan sayuran terutama kubis, kacang panjang, dan paprika untuk memperbaiki fungsi pankreas. Pengaturan pola makan membutuhkan kedisiplinan. Sebaiknya konsultasikan dengan ahli gizi mengenai pola makan yang tepat bagi penderita DM. 

2.Olahraga yang teratur. Olahraga yang benar dapat memberikan beberapa manfaat, antara lain menurunkan kadar gula darah (dengan mengurangi resistensi insulin, meningkatkan sensivitas insulin), menurunkan berat badan, mencegah kegemukan, serta mengurangi kemungkinan terjadinya komplikasi 

3.Minum obat secara rutin. Penggunaan obat penurun gula darah diberikan setelah dengan cara pengaturan makan dan olahraga kadar gula darah belum terkontrol. 

4.Cukup istirahat dan menghindari stress. Faktor stress juga bisa berpengaruh terhadap peningkatan kadar gula darah. Peran dan dukungan dari keluarga sangat dibutuhkan untuk membantu dan mengingatkan penderita DM agar bisa mengelola penyakitnya dengan baik. Jika kada gula darah dapat  terkontrol dengan baik, insyaAllah tidak akan terjadi komplikasi penyakit DM. Semoga bermanfaat. 
Oleh : dr. Adika Mianoki

Sumber : Majalah Kesehatan Muslim edisi 2

Monday, January 13, 2014

Elektrolit Klorida


Klorida merupakan anion utama dalam cairan ekstrasel. Pemeriksaan konsentrasi klorida dalam plasma berguna sebagai diagnosis banding pada gangguan keseimbangan asam-basa, dan menghitung anion gap.Jumlah klorida pada orang dewasa normal sekitar 30 mEq per kilogram berat badan. Sekitar 88% klorida berada dalam cairan ekstraseluler dan 12% dalam cairan intrasel. Konsentrasi klorida pada bayi lebih tinggi dibandingkan pada anak-anak dan dewasa. Keseimbangan Gibbs-Donnan mengakibatkan kadar klorida dalam cairan interstisial lebih tinggi dibanding dalam plasma. Klorida dapat menembus membran sel secara pasif. Perbedaan kadar klorida antara cairan interstisial dan cairan intrasel disebabkan oleh perbedaan potensial di permukaan luar dan dalam membran sel. Jumlah klorida dalam tubuh ditentukan oleh keseimbangan antara klorida yang masuk dan yang keluar. Klorida yang masuk tergantung dari jumlah dan jenis makanan. Kandungan klorida dalam makanan sama dengan natrium. Orang dewasa pada keadaan normal rerata mengkonsumsi 50-200 mEq klorida per hari, dan ekskresi klorida bersama feses sekitar 1-2 mEq perhari. Drainase lambung atau usus pada diare menyebabkan ekskresi klorida mencapai 100 mEq perhari. Kadar klorida dalam keringat bervariasi, rerata 40 mEq/L. Bila pengeluaran keringat berlebihan, kehilangan klorida dapat mencapai 200 mEq per hari. Ekskresi utama klorida adalah melalui ginjal.
Nilai Rujukan Klorida
serum bayi baru lahir - serum anak  - serum dewasa  - keringat anak  - keringat dewasa - urine   - feses   : 94-112 mmol/L : 98-105 mmol/L : 95-105 mmol/L : <50 mmol/L : <60 mmol/L : 110-250 mmol/24 jam : 2 mmol/24 jam

Sumber :
Fisiologi dan Gangguan Keseimbangan Natrium, Kalium dan Klorida  serta Pemeriksaan Laboratorium, Rismawati Yaswir, Ira Ferawati, Jurnal Kesehatan Andalas. 2012; 1(2)

Saturday, December 28, 2013

Elektrolit Natrium

Natrium adalah kation terbanyak dalam cairan ekstrasel, jumlahnya bisa mencapai 60 mEq per kilogram berat badan dan sebagian kecil (sekitar 1014 mEq/L) berada dalam cairan intrasel. Lebih dari 90% tekanan osmotik di cairan ekstrasel ditentukan oleh garam yang mengandung natrium, khususnya dalam bentuk natrium klorida (NaCl) dan natrium bikarbonat (NaHCO3) sehingga perubahan tekanan osmotik pada cairan ekstrasel menggambarkan perubahan konsentrasi natrium. Perbedaan kadar natrium intravaskuler dan interstitial disebabkan oleh keseimbangan GibbsDonnan, sedangkan perbedaan kadar natrium dalam cairan ekstrasel dan intrasel disebabkan oleh adanya transpor aktif dari natrium keluar sel yang bertukar dengan masuknya kalium ke dalam sel (pompa Na+ K+). Jumlah natrium dalam tubuh merupakan gambaran keseimbangan antara natrium yang masuk dan natrium yang dikeluarkan. Pemasukan natrium yang berasal dari diet melalui epitel mukosa saluran cerna dengan proses difusi dan pengeluarannya melalui ginjal atau saluran cerna atau keringat di kulit. Pemasukan dan pengeluaran natrium perhari mencapai 48-144 mEq. Jumlah natrium yang keluar dari traktus gastrointestinal dan kulit kurang dari 10%. Cairan yang berisi konsentrasi natrium yang berada pada saluran cerna bagian atas hampir mendekati cairan ekstrasel, namun natrium direabsorpsi sebagai cairan pada saluran cerna bagian bawah, oleh karena itu konsentrasi natrium pada feses hanya mencapai 40 mEq/L4.  Keringat adalah cairan hipotonik yang berisi natrium dan klorida. Kandungan natrium pada cairan keringat orang normal rerata 50 mEq/L. Jumlah pengeluaran keringat akan meningkat sebanding dengan lamanya periode terpapar pada lingkungan yang panas, latihan fisik dan demam. Ekskresi natrium terutama dilakukan oleh Pengaturan eksresi ini dilakukan untuk mempertahankan homeostasis natrium, yang sangat diperlukan untuk mempertahankan volume cairan tubuh. Natrium difiltrasi bebas di glomerulus, direabsorpsi secara aktif 60-65% di tubulus proksimal bersama dengan H2O dan klorida yang direabsorpsi secara pasif, sisanya direabsorpsi di lengkung henle (25-30%), tubulus distal (5%) dan duktus koligentes (4%). Sekresi natrium di urine <1%. Aldosteron menstimulasi tubulus distal untuk mereabsorpsi natrium bersama air secara pasif dan mensekresi kalium pada sistem renin-angiotensin-aldosteron untuk mempertahankan elektroneutralitas.9,11,13-17 Nilai Rujukan Natrium5,18 Nilai rujukan kadar natrium pada: - serum bayi    : 134-150 mmol/L - serum anak dan dewasa : 135-145 mmol/L - urine anak dan dewasa   : 40-220 mmol/24 jam - cairan serebrospinal   : 136-150 mmol/L - feses     2. Fisiologi Kalium : kurang dari 10 mmol/hari

Saturday, June 8, 2013

Cara menampung urin 24 jam

Cara menampung urin 24 jam :
1. Dalam wadah penampung urin yang bersih dan kering masukkan 1 tablet pengawet urin (toluena)
2. Pasien diminta untuk berkemih pada kurang lebih jam 7 pagi dan urin dibuang. Catat waktu dengan tepat sampai ke menit.
3. Selanjutnya selama 24 jam semua urin yang dikeluarkan ditampung dalam wadah yang telah diberi pengawet urin.
4. Urin yang terakhir ditampung yaitu jam 7 pagi keesokan harinya

Bau Urin yang Tajam, berbahayakah ?

Seringkali terjadi anak bahkan sebagian orang dewasa mengeluh bahwa bau kencing sangat tajam. Kekwatiran sering timbul dalam menyikapinya. Ternyata, bau urine ini banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor, bisa fisiologis normal dapat jaga petunjuk ada penyeakit atau kelainan di tubuh manusia.
Ada banyak kemungkinan yang menjadi penyebab urine menjadi bau seperti masalah pada saluran kemih seperti infeksi kandung kemih, gangguan metabolisme tubuh, gangguan hormonal, atau bau urine yang mengandung ragi (yeast) dapat menjadi petunjuk dari diagnosis diabetes.
Untuk membedakan apakah bau tersebut berasal dari air kencing atau vagina. Cara mudah untuk menentukannya adalah dengan buang air kecil di dalam cangkir atau gelas dan tunggu beberapa menit. Jika bau masih tercium, kemungkinan besar berkaitan dengan air seni.
Kebanyakan bau dari urine hanya bersifat sementara dan tidak mengindikasikan masalah kesehatan. Tapi jika hal tersebut terus berlanjut selama beberapa hari, sebaiknya melakukan pemeriksaan ke dokter untuk mengetahui penyebabnya.
Untuk melakukan diagnosis, pasien harus menjalani beberapa tes untuk mengetahui fungsi dari beberapa organ atau ada tidaknya zat tertentu. Tes yang dilakukan biasanya untuk memeriksa kandung kemih atau infeksi saluran kemih, penyakit ginjal, dehidrasi, diabetes atau gangguan metabolisme seperti fenilketonuria.
Tanda-tanda untuk memeriksa urine:
1. Jumlah air dalam urine.
Mengetahuinya dengan tes spesifik gravity. Tes ini memberikan petunjuk mengenai jumlah air dalam urine dan status orang tersebut apakah dehidrasi atau tidak.
2. Warna urine.
Warna pada urine dipengaruhi oleh makanan, pewarna makanan, hidrasi, obat-obatan, vitamin dan adanya suatu penyakit seperti penyakit hati atau gangguan perdarahan.
3. Kejernihan.
Ketidakjernihan urine dapat mengindikasikan adanya darah, lendir, kristal dari batu ginjal atau kandung kemih dan bakteri.
4. Protein.
Seharusnya di dalam urine tidak ditemukan adanya urin, jika ditemukan mungkin mengindikasikan adanya gangguan di ginjal atau kehamilan.
5. Keton.
Adanya keton dalam urine ketika lemak diuraikan dalam tubuh sebagai energi. Kehadiran keton ditunjukkan saat sedang puasa, diet tinggi protein, karbohidrat yang rendah serta konsumsi alkohol. Pada kondisi ekstrem, keton dapat berpotensi bahaya yang dikenal sebagai diabetic ketoacidosis (tubuh mendapatkan energi dari lemak karena tidak dapat mengubah glukosa menjadi energi).
6. Nilai pH.
Ini untuk mengetahui apakah urine bersifat asam atau basa.
7. Glukosa.
Adanya glukosa dalam urine bisa diakibatkan oleh tingginya kadar gula seperti diabetes yang tidak terkontrol atau akibat gangguan di ginjal.
8. Nitrit.
Menunjukkan adanya infeksi bakteri di saluran kemih.
9. Leukocyte esterase.
Mengindikasikan adanya sel-sel darah putih dalam urin yang kemungkinan akibat infeksi di saluran kemih.
10. Cek analisis mikroskopis.
Tes ini untuk melihat berbagai tanda seperti merah (mengindikasikan perdarahan, ada penyakit, tumor atau cedera), sel darah putih (gangguan autoimun, peradangan), bakteri, jamur, parasit, kristal (gangguan pada ginjal) dan sel-sel skuamosa (sampel urine kemungkinan sudah terkontaminasi saat dikumpulkan).
Berdasarkan hasil dari pemeriksaan yang cernat melalui pemeriksaan fisik dan laboratorium dapat ditentukan penyebab dari bau urine yang muncul saat buang air kecil.
Sumber : KORAN INDONESIA SEHAT http://koranindonesia.sehat.com

Friday, January 4, 2013

Kristal Kalsium Oksalat

ilustrasi : www.uthsc.edu
Ca oxalat adalah kristal yang terbentuk dari calsium dan oxalat. Ca oxalat merupakan kristal yang paling banyak menyebabkan batu saluran kemih (70-75%),  Ca Oxalat (kalsium oksalat) merupakan suatu senyawa mineral normal yang diekskresikan oleh tubuh, terjadi karena proses multifaktor, kongenital dan gangguan metabolik.

Bi
la terbentuk kristal ini di dalam urin dikarenakan tingginya konsumsi makanan yang tinggi oxalat , seperti :
-Protein makanan : kacang
-kacangan
-Minuman : te
h, coklat, cola
-Buah : anggur, lemon, jeruk, strawb
erry, berri-berri, dll
-Sayuran : bunga kol, wortel, terong, ubi, dll

Bila ada ca oxalat dalam ur
in, sebaiknya melakukan hal-hal berikut :
-Perbanyak minum
-Kurangi asupan protein
-Kurangi makanan kadar oxalat tinggi
-Hindari mengkonsumsi vitamin
C
-Kurangi garam

Referensi :

Thursday, July 12, 2012

Warna urin pekat


Warna urine yang pekat ( bilirubin 3 + urobilinogen > 4 ) dapat mengganggu pembacaan reagen strip sehingga menyebabakan hasil positif palsu pada kadar protein, glukosa, nitrit, darah samar, leukosit dan keton.
Belajar Analis Kesehatan Secara Profesional

Thursday, May 17, 2012

Pemeriksaan Laboratorium Penderita Diabetes Mellitus


Ilustrasi : agen-gamat.biz

Pendahuluan
Diabetes Melitus (DM) adalah kelainan metabolisme karbohidrat, di mana glukosa darah tidak dapat digunakan dengan baik, sehingga menyebabkan keadaan hiperglikemia. 1,2 DM merupakan kelainan endokrin yang terbanyak dijumpai.3 Penderita DM mempunyai risiko untuk menderita komplikasi yang spesifik akibat perjalanan penyakit ini, yaitu retinopati (bisa menyebabkan kebutaan), gagal ginjal, neuropati, aterosklerosis (bisa menyebabkan stroke), gangren, dan penyakit arteria koronaria (Coronary artery disease).1,2,3
Prevalensi DM sulit ditentukan karena standar penetapan diagnosisnya berbeda-beda. Berdasarkan kriteria American Diabetes Association (ADA), sekitar 10,2 juta orang di Amerika Serikat (AS) menderita DM dan yang tidak terdiagnosis sekitar 5,4 juta. Dengan demikian, diperkirakan lebih dari 15 juta orang di AS menderita DM. Sementara itu, di Indonesia prevalensi DM sebesar 1,5-2,3% penduduk usia >15 tahun, bahkan di daerah Manado prevalensi DM sebesar 6,1%.4
Pemeriksaan laboratorium bagi penderita DM diperlukan untuk menegakkan diagnosis serta memonitor Tx dan timbulnya komplikasi spesifik akibat penyakit. Dengan demikian, perkembangan penyakit bisa dimonitor dan dapat mencegah komplikasi.1,5,6 Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui jenis pemeriksaan pada penderita DM.
Klasifikasi dan Patogenesis Diabetes Melitus
DM adalah kelainan endokrin yang ditandai dengan meningkatnya kadar glukosa darah.1,2,3 Menurut anjuran PERKENI yang sesuai dengan anjuran ADA 1997, DM bisa diklasifikasikan secara etiologi menjadi diabetes tipe 1, diabetes tipe 2, diabetes dalam kehamilan, dan diabetes tipe lain.2,3,4
Diabetes Tipe 1
DM tipe 1 atau yang dulu dikenal dengan nama Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM), terjadi karena kerusakan sel b pankreas (reaksi autoimun). Bila kerusakan sel beta telah mencapai 80--90% maka gejala DM mulai muncul. Perusakan sel beta ini lebih cepat terjadi pada anak-anak daripada dewasa.2,3 Sebagian besar penderita DM tipe 1 mempunyai antibodi yang menunjukkan adanya proses autoimun, dan sebagian kecil tidak terjadi proses autoimun. Kondisi ini digolongkan sebagai type 1 idiopathic. Sebagian besar (75%) kasus terjadi sebelum usia 30 tahun, tetapi usia tidak termasuk kriteria untuk klasifikasi.2
Diabetes Tipe 2
DM tipe 2 merupakan 90% dari kaaus DM yang dulu dikenal sebagai non insulin dependent Diabetes Mellitus (NIDDM). Pada diabetes ini terjadi penurunan kemampuan insulin bekerja di jaringan perifer (insulin resistance) dan disfungsi sel beta. Akibatnya, pankreas tidak mampu memproduksi insulin yang cukup untuk mengkompensasi insulin resistance. Kedua hal ini menyebabkan terjadinya defisiensi insulin relatif.2,3 Gejala minimal dan kegemukan sering berhubungan dengan kondisi ini, yang umumnya terjadi pada usia > 40 tahun. Kadar insulin bisa normal, rendah, maupun tinggi, sehingga penderita tidak tergantung pada pemberian insulin.2
DM Dalam Kehamilan
DM dan kehamilan (Gestational Diabetes Mellitus - GDM) adalah kehamilan normal yang disertai dengan peningkatan insulin resistance (ibu hamil gagal mempertahankan euglycemia). Faktor risiko GDM: riwayat keluarga DM, kegemukan, dan glikosuria. GDM ini meningkatkan morbiditas neonatus, misalnya hipoglikemia, ikterus, polisitemia, dan makrosomia. Hal ini terjadi karena bayi dari ibu GDM mensekresi insulin lebih besar sehingga merangsang pertumbuhan bayi dan makrosomia. Frekuensi GDM kira-kira 3--5% dan para ibu tersebut meningkat risikonya untuk menjadi DM di masa mendatang.2
Diabetes Tipe Lain
Subkelas DM di mana individu mengalami hiperglikemia akibat kelainan spesifik (kelainan genetik fungsi sel beta), endokrinopati (penyakit Cushing’s, akromegali), penggunaan obat yang mengganggu fungsi sel beta (dilantin), penggunaan obat yang mengganggu kerja insulin (b-adrenergik), dan infeksi/sindroma genetik (Down’s, Klinefelter’s).2
Pemeriksaan
Untuk Dx DM: pemeriksaan glukosa darah/hiperglikemia (puasa, 2 jam setelah makan/post prandial/PP) dan setelah pemberian glukosa per-oral (TTGO).1,2,3,4,5,7
Antibodi untuk petanda (marker) adanya proses autoimun pada sel beta adalah islet cell cytoplasmic antibodies (ICA), insulin autoantibodies (IAA), dan antibodi terhadap glutamic acid decarboxylase (anti-GAD). ICA bereaksi dengan antigen yang ada di sitoplasma sel-sel endokrin pada pulau-pulau pankreas. ICA ini menunjukkan adanya kerusakan sel. Adanya ICA dan IAA menunjukkan risiko tinggi berkembangnya penyakit ke arah diabetes tipe 1. GAD adalah enzim yang dibutuhkan untuk memproduksi neurotransmiter g-aminobutyric acid (GABA). Anti GAD ini bisa teridentifikasi 10 tahun sebelum onset klinis terjadi. Jadi, 3 petanda ini bisa digunakan sebagai uji saring sebelum gejala DM muncul.2
Untuk membedakan tipe 1 dengan tipe 2 digunakan pemeriksaan C-peptide. Konsentrasi C-peptide merupakan indikator yang baik untuk fungsi sel beta, juga bisa digunakan untuk memonitor respons individual setelah operasi pankreas. Konsentrasi C-peptida akan meningkat pada transplantasi pankreas atau transplantasi sel-sel pulau pankreas.2
Sampling untuk Pemeriksaan Kadar Gula Darah
Untuk glukosa darah puasa, pasien harus berpuasa 6--12 jam sebelum diambil darahnya. Setelah diambil darahnya, penderita diminta makan makanan seperti yang biasa dia makan/minum glukosa per oral (75 gr ) untuk TTGO, dan harus dihabiskan dalam waktu 15--20 menit. Dua jam kemudian diambil darahnya untuk pemeriksaan glukosa 2 jam PP.2,3,4
Darah disentrifugasi untuk mendapatkan serumnya, kemudian diperiksa kadar glukosanya. Bila pemeriksaan tidak langsung dilakukan (ada penundaan waktu), darah dari penderita bisa ditambah dengan antiglikolitik (gliseraldehida,fluoride, dan iodoasetat) untuk menghindari terjadinya glukosa darah yang rendah palsu.2,8,9 Ini sangat penting untuk diketahui karena kesalahan pada fase ini dapat menyebabkan hasil pemeriksaan gula darah tidak sesuai dengan sebenarnya, dan akan menyebabkan kesalahan dalam penatalaksanaan penderita DM.
Metode Pemeriksaan Kadar Glukosa
Metode pemeriksaan gula darah meliputi metode reduksi, enzimatik, dan lainnya. Yang paling sering dilakukan adalah metode enzimatik, yaitu metode glukosa oksidase (GOD) dan metode heksokinase.1,2,8,9
Metode GOD banyak digunakan saat ini. Akurasi dan presisi yang baik (karena enzim GOD spesifik untuk reaksi pertama), tapi reaksi kedua rawan interferen (tak spesifik). Interferen yang bisa mengganggu antara lain bilirubin, asam urat, dan asam askorbat.2,8
Metode heksokinase juga banyak digunakan. Metode ini memiliki akurasi dan presisi yang sangat baik dan merupakan metode referens, karena enzim yang digunakan spesifik untuk glukosa.8 Untuk mendiagosa DM, digunakan kriteria dari konsensus Perkumpulan Endokrinologi Indonesia tahun 1998 (PERKENI 1998) 3,4,7
Pemeriksaan untuk Pemantauan Pengelolaan DM
Yang digunakan adalah kadar glukosa darah puasa, 2 jam PP, dan pemeriksaan glycated hemoglobin, khususnya HbA1C, serta pemeriksaan fruktosamin.2,3,4,7,10 Pemeriksaan fruktosamin saat ini jarang dilakukan karena pemeriksaan ini memerlukan prosedur yang memakan waktu lama.7 Pemeriksaan lain yang bisa dilakukan ialah urinalisa rutin. Pemeriksaan ini bisa dilakukan sebagai self-assessment untuk memantau terkontrolnya glukosa melalui reduksi urin.1,7
Pemeriksaan HbA1C
HbA1C adalah komponen Hb yang terbentuk dari reaksi non-enzimatik antara glukosa dengan N terminal valin rantai b Hb A dengan ikatan Almidin. Produk yang dihasilkan ini diubah melalui proses Amadori menjadi ketoamin yang stabil dan ireversibel.7,10,11 Metode pemeriksaan HbA1C: ion-exchange chromatography, HPLC (high performance liquid chromatography), Electroforesis, Immunoassay, Affinity chromatography, dan analisis kimiawi dengan kolorimetri.1,2,10,11
Metode Ion Exchange Chromatography: harus dikontrol perubahan suhu reagen dan kolom, kekuatan ion, dan pH dari bufer. Interferens yang mengganggu adalah adanya HbS dan HbC yang bisa memberikan hasil negatif palsu.2,10
Metode HPLC: prinsip sama dengan ion exchange chromatography, bisa diotomatisasi, serta memiliki akurasi dan presisi yang baik sekali. Metode ini juga direkomendasikan menjadi metode referensi.10
Metode agar gel elektroforesis: hasilnya berkorelasi baik dengan HPLC, tetapi presisinya kurang dibanding HPLC. Hb F memberikan hasil positif palsu, tetapi kekuatan ion, pH, suhu, HbS, dan HbC tidak banyak berpengaruh pada metode ini.2
Metode Immunoassay (EIA): hanya mengukur HbA1C, tidak mengukur HbA1C yang labil maupun HbA1A dan HbA1B, mempunyai presisi yang baik.2
Metode Affinity Chromatography: non-glycated hemoglobin serta bentuk labil dari HbA1C tidak mengganggu penentuan glycated hemoglobin, tak dipengaruhi suhu. Presisi baik. HbF, HbS, ataupun HbC hanya sedikit mempengaruhi metode ini, tetapi metode ini mengukur keseluruhan glycated hemoglobin, sehingga hasil pengukuran dengan metode ini lebih tinggi dari metode HPLC.2,10
Metode Kolorimetri: waktu inkubasi lama (2 jam), lebih spesifik karena tidak dipengaruhi non-glycosylated ataupun glycosylated labil. Kerugiannya waktu lama, sampel besar, dan satuan pengukuran yang kurang dikenal oleh klinisi, yaitu m mol/L.10
Interpertasi Hasil Pemeriksaan HbA1C
HbA1C akan meningkat secara signifikan bila glukosa darah meningkat. Karena itu, HbA1C bisa digunakan untuk melihat kualitas kontrol glukosa darah pada penderita DM (glukosa darah tak terkontrol, terjadi peningkatan HbA1C-nya ) sejak 3 bulan lalu (umur eritrosit). HbA1C meningkat: pemberian Tx lebih intensif untuk menghindari komplikasi 2,3,4,5,7,10,11
Nilai yang dianjurkan PERKENI untuk HbA1C (terkontrol): 4%-5,9%.4 Jadi, HbA1C penting untuk melihat apakah penatalaksanaan sudah adekuat atau belum.1,18 Sebaiknya, penentuan HbA1C ini dilakukan secara rutin tiap 3 bulan sekali.4
Pemeriksaan untuk Memantau Komplikasi DM
Komplikasi spesifik DM: aterosklerosis, nefropati, neuropati, dan retinopati. Pemeriksaan laboratorium bisa dilakukan untuk memprediksi beberapa dari komplikasi spesifik tersebut, misalnya untuk memprediksi nefropati dan gangguan aterosklerosis.2,3,4,6,7
Pemeriksaan Mikroalbuminuria
Pemeriksaan untuk memantau komplikasi nefropati: mikroalbuminuria serta heparan sulfat urine (pemeriksaan ini jarang dilakukan).1,2,3,4,5,6,7,12,13,1,15,16 Pemeriksaan lainnya yang rutin adalah pemeriksaan serum ureum dan kreatinin untuk melihat fungsi ginjal.4
Mikroalbuminuria: ekskresi albumin di urin sebesar 30-300 mg/24 jam atau sebesar 20-200 mg/menit.2,3,6,14 Mikroalbuminuria ini dapat berkembang menjadi makroalbuminuria. Sekali makroalbuminuria terjadi maka akan terjadi penurunan yang menetap dari fungsi ginjal. Kontrol DM yang ketat dapat memperbaiki mikroalbuminuria pada beberapa pasien, sehingga perjalanan menuju ke nefropati bisa diperlambat.3,4,6 Pengukuran mikroalbuminuria secara semikuantitatif dengan menggunakan strip atau tes latex agglutination inhibition, tetapi untuk memonitor pasien tes-tes ini kurang akurat sehingga jarang digunakan. Yang sering adalah cara kuantitatif: metode Radial Immunodiffusion (RID), Radio Immunoassay (RIA), Enzym-linked Immunosorbent assay (ELISA), dan Immunoturbidimetry. Metode kuantitatif memiliki presisi, sensitivitas, dan range yang mirip, serta semuanya menggunakan antibodi terhadap human albumin.2,6,12,14 Sampel yang digunakan untuk pengukuran ini adalah sampel urine 24 jam.15
Interpretasi Hasil Pemeriksaan Mikroalbuminuria
Menurut Schrier et al (1996), ada 3 kategori albuminuria, yaitu albuminuria normal (<20 mg/menit), mikroalbuminuria (20--200 mg/menit), Overt Albuminuria (>200 mg/menit).2,17 Pemeriksaan albuminuria sebaiknya dilakukan minimal 1 X per tahun pada semua penderita DM usia > 12 tahun.17
Pemeriksaan untuk Komplikasi Aterosklerosis
Pemeriksaan untuk memantau komplikasi aterosklerosis ini ialah profil lipid, yaitu kolesterol total, low density lipoprotein cholesterol (LDL-C), high density lipoprotein cholesterol (HDL-C), dan trigliserida serum, serta mikroalbuminuria.4,5,7,18 Pada pemeriksaan profil lipid ini, penderita diminta berpuasa sedikitnya 12 jam (karena jika tidak puasa, trigliserida > 2 jam dan mencapai puncaknya 6 jam setelah makan).21
Pemeriksaan untuk Komplikasi Lainnya
Pemeriksaan lainnya untuk melihat komplikasi darah dan analisa rutin. Pemeriksaan ini bisa untuk melihat adanya infeksi yang mungkin timbul pada penderita DM.3
Untuk pemeriksaan laboratorium infeksi, sering dibutuhkan kultur (pembiakan), misalnya kultur darah, kultur urine, atau lainnya. Pemeriksaan lain yang juga seringkali dibutuhkan adalah pemeriksaan kadar insulin puasa dan 2 jam PP untuk melihat apakah ada kelainan insulin darah atau tidak. Kadang-kadang juga dibutuhkan pemeriksaan lain untuk melihat gejala komplikasi dari DM, misalnya adanya gangguan keseimbangan elektrolit dan asidosis/alkalosis metabolik maka perlu dilakukan pemeriksaan elektrolit dan analisa gas darah. Pada keadaan ketoasidosis juga dibutuhkan adanya pemeriksaan keton bodies, misalnya aceton/keton di urine, kadar asam laktat darah, kadar beta hidroksi butarat dalam darah, dan lain-lainnya. Selain itu, mungkin untuk penelitian masih dilakukan pemeriksaan biomolekuler, misalnya HLA (Human Lymphocyte Antigen) serta pemeriksaan genetik lain.
Kesimpulan
DM adalah kelainan metabolisme karbohidrat yang merupakan kelainan endokrin terbanyak.. Di Indonesia, prevalensi DM sebesar 1,5--2,3% penduduk usia > 15 tahun, bahkan di Manado didapatkan prevalensi DM sebesar 6,1%.
Penderita DM mempunyai risiko komplikasi yang spesifik, yaitu retinopati, gagal ginjal, neuropati, aterosklerosis, stroke, gangren, ataupun penyakit arteria koronaria. Pemeriksaan laboratorium DM: menegakkan Dx serta memonitor Tx dan timbulnya komplikasi. Pemeriksaan Dx: kadar gula darah puasa dan 2 jam PP, TTGO (lihat konsensus PERKENI 1998 ).
Pemeriksaan monitor Tx: kadar glukosa puasa, 2 jam PP dan HbA1C, serta urinalisa rutin. Pemeriksaan yang mendeteksi kelainan nefropati dini: mikroalbuminuria (masih reversibel), dan yang rutin adalah serum ureum dan kreatinin untuk melihat fungsi ginjal. Pemeriksaan untuk memantau komplikasi aterosklerosis: profil lipid (kolesterol total, low density lipoprotein cholesterol/LDL-C, high density lipoprotein cholesterol (HDL-C), dan trigliserida serum), serta mikroalbuminuria.
Pemeriksaan adanya komplikasi lain: darah dan urinalisa rutin (adanya infeksi), kultur urine maupun darah, elektrolit serta analisa gas darah, keton /aceton urine, asam laktat darah, insulin darah, dan lain-lain.
Daftar Pustaka
  1. Dods R.F, Diabetes Mellitus, In Clinical Chemistry: Theory, Analysis, Correlation, Eds, Kaplan L.A, Pesce A.J, 3rd Edition, Mosby Inc, USA, 1996:613-640
  2. Sacks D.B., Carbohydrates, In Tietz Fundamentals of Clinical Chemistry, Eds Burtis C.A, Ashwood E.R, 5th Edition, W.B. Saunders Company, USA, 2001:427-461
  3. Foster D.W, Diabetes Mellitus, In Harrison’s Principles of Internal Medicine, Eds Fauci, Braunwald, Isselbacher, et al, 14th Edition, McGraw-Hill Companies, USA, 1998:623-75
  4. Hendromartono, Consensus on The Management of Diabetes Mellitus (Perkeni 1998), In Surabaya Diabetes Update VI, Eds Tjokroprawiro A, Hendromartono, Sutjahjo A, Tandra H., Pranoto A., Surabaya, 1999:1-14
  5. Kaplan, L.A., Laboratory Approaches, In Method’s in Clinical Chemistry, Eds Amadeo J, Kaplan L.A., 1987:94-96
  6. Tabaei B.P., Al-Kassab A.S., Ilag L.L., et al, Does Microalbuminuria Predict Diabetic Nephropathy?, Diabetes Care, 24:9, 2001:1560-1566
  7. Alberti K.G.M.N., Zimmet P., DeFronzo R.A., International Textbook of Diabetes Mellitus, Second Edition, John Wiley & Sons Ltd., England, 1997:1027-1074
  8. Kaplan, L.A, Carbohydrates and Metabolites, In Method’s in Clinical Chemistry, Eds Amadeo J, Kaplan L.A., 1989:850-856
  9. Landt M., Glyceraldehide Preserves Glucose Concentrations in Whole Blood Specimens, Clinical Chemistry, 46:8, 2000:1144-1149
  10. King, M.E., Glycosylated Hemoglobin, In Method’s in Clinical Chemistry, Eds Amadeo J, Kaplan L.A., 1987:113-116
  11. Peterson, K.P., Pavlovich J.G., Goldstein D., et al., What is Hemoglobin A1c? An Analysis of Glycated Hemoglobins by Electrospray Ioni-zation Mass Spectrometry, Clinical Chemistry, 44:9, 1998:1951-1958
  12. Gendler, S.M., Albumin, In Method’s in Clinical Chemistry, Eds Amadeo J, Kaplan L.A., 1987:1066-1073
  13. Larson, T.S., Santanello N., Shahinfar S., O’Brien P.C., et al, Trend in Persistent Proteinuria in Adult-Onset Diebetes, Diabetes Care, 23:1, 2000:51-56
  14. Mogensen C.E., Viberti G.C., Peheim E., Kutter D., et al, Multicenter Evaluation of Micral-Test II Test Strip, an Immunologic Rapid Test for the Detection of Microalbuminuria, Diabetes Care, 20:11, 1997:1642-1646
  15. Newman D, Price C.P, Renal Function, In Tietz Fundamentals of Clinical Chemistry, Eds Burtis C.A, Ashwood E.R, 5th Edition, W.B. Saunders Company, USA, 2001:698-722
  16. Pedrinelli R., Glampletro O., Carmassi F., Melillo E., et al, Microalbuminuria and Endothelial Dysfunction In Essential Hypertension, Lancet, 344, 1994:14-18
  17. Yogiantoro M., Management of Diabetic Nephropathy, In Surabaya Diabetes Update VI, Eds Tjokroprawiro A, Hendromartono, Sutjahjo A, Tandra H., Pranoto A., Surabaya, 1999:63-68
  18. Rifai N, Albers J.J., Bachorik P.S, Lipids, Lipoproteins and Apolipoproteins, In Tietz Fundamentals of Clinical Chemistry, Eds Burtis C.A, Ashwood E.R, 5th Edition, W.B. Saunders Company, USA, 2001:462-493
  19. Naito, H.K., Cholesterol, In Method’s in Clinical Chemistry, Eds Amadeo J, Kaplan L.A., 1987:1156-1176
  20. Naito, H.K., High-density Lipoprotein (HDL) Cholesterol, In Method’s in Clinical Chemistry, Eds Amadeo J, Kaplan L.A., 1987:1179-1192
  21. Naito, H.K., Triglycerides, In Method’s in Clinical Chemistry, Eds Amadeo J, Kaplan L.A., 1987:1215-1226
ANIK WIDIJANTI DAN BERNARD THEODORE RATULANGI 
Laboratorium Patologi Klinik RSUD Dr. Saiful Anwar / FK Unibraw, Malang

Sumber : www.tempo.co.id