Showing posts with label BAKTERIOLOGI. Show all posts
Showing posts with label BAKTERIOLOGI. Show all posts

Thursday, December 31, 2015

Buku Saku Bakteriologi

Judul : Buku Saku Bakteriologi
Penulis : Dedy Arianda, Amd.AK, S.Si
Penerbit : AM-Publishing
Tahun : 2016
Tebal : 100 halaman
Ukuran : 10x10 cm
Harga : Rp. 30.000,-

Idealnya seseorang yang berkecimpung di dunia laboratorium bakteriologi harus benar-benar menguasai semua hal yang berhubungan dengan bidangnya. Namun cakupan mengenai ilmu tentang laboratorium bakteriologi terlalu luas untuk dikuasai, sehingga perlu rasanya seseorang untuk memiliki catatan kecil sebagai ringkasan ilmu yang minimal harus dikuasai oleh seorang yang berkecimpung di laboratorium bakteriologi, baik sebagai profesional, pengajar, mahasiswa, ataupun siswa. Diharapkan buku yang kecil ini dapat dijadikan sebagai catatan kecil untuk menemani aktivitas kita berupa melakukan pemeriksaan, belajar, ataupun mengajar di laboratorium bakteriologi karena di dalamnya berisi gambar-gambar yang full colour mengenai gambar bakteri, media kultur, hasil pemeriksaan, dll.

Beli langsung via Whatsapp klik di sini

CARA BELI DAN DAFTAR BUKU LAINNYA LIHAT DISINI


Daftar Isi :
Kata pengantar....................................... 2
Pendahuluan.........................................  3
Daftar Isi..............................................  4
Bakteriologi........................................... 6
Tentang Bakteri...................................... 7
Struktur Sel Bakteri.................................. 8
Bentuk Bakteri....................................... 11
Pemeriksaan Bakteri................................ 15
Pewarnaan Bakteri.................................. 16
Media Bakteri........................................ 33
Cara Pembuatan Media Agar Cawan.............. 34
Cara Pembuatan Media Gula-gula................. 35
Media Enrichment................................... 36
Media Universal...................................... 41
Media Selektif........................................ 45
Media Differensial................................... 51
Media Penunjang.................................... 58
Media Khusus......................................... 68
Pertumbuhan pada Agar Miring.................... 72
Pertumbuhan pada Agar Tegak.................... 73


Ciri koloni berdasar kebutuhan O2................ 74
Pertumbuhan pada Media Cair..................... 75
Cara Menanam Bakteri di Media TSIA............. 76
Identifikasi Jenis Bakteri............................77
Identifikasi Streptococcus.......................... 77
Identifikasi Staphylococcus.........................79
Identifikasi Escherichia coli........................ 81
Identifikasi Klebsiella pneumonia................. 85
Identifikasi Salmonella tiphy...................... 88
Identifikasi Pseudomonas aeroginosa............. 91
Identifikasi Vibrio.................................... 94
Identifikasi Proteus.................................. 97
Referensi.............................................. 100



Beli langsung via Whatsapp klik di sini

Perhatian Penting :
  1. Pemesanan harus menggunakan format yang benar, wajib menyertakan kode pos.
  2. Menulis alamat selengkap mungkin agar paket pengiriman lebih cepat sampai tujuan
  3. Pembayaran dilakukan setelah mendapatkan balasan pemesanan sesuai format 

Pemesanan dilakukan dengan cara :
Pertama kirim pesan dengan format : BSB#JUMLAH#NAMA#ALAMAT#KODEPOS#TELP kirim ke : 085697529868 (SMS/WA) atau pin BB (767BDB81)

harga 1 buku = Rp 30.000 (Belum termasuk Ongkos Kirim, dapat dikirim ke seluruh wilayah Indonesia melalui POS/ JNE)

Cara Pembayaran
Pembayaran dilakukan setelah mendapatkan balasan pemesanan sesuai format di atas. Pembayaran dapat dilakukan melalui rekening berikut:
BANK BRI : A.N. Dedy Arianda = 7313-01-003219-53-9
atau
BANK MANDIRI : A.N. Dedy Arianda = 900-00-0778569-5
atau
BANK BTN : A.N. Dedy Arianda 00535-01-61-000274-8 

Setelah melakukan pembayaran melalui No. Rekening di atas, kami mohon Anda segera melakukan konfirmasi dengan menyertakan NOMINAL dan TUJUAN BANK TRANSFER (BRI/MANDIRI/BTN) kepada kami melalui no: 085697529868 (SMS/WA) atau pin BB (767BDB81) agar pengiriman barang dapat lebih cepat lagi kami lakukan. Setelah konfirmasi dari Anda kami terima, Insya Allah kami langsung mengirimkan buku pesanan Anda.
Terimakasih.

Monday, July 28, 2014

Bakteri pada gigi


Gigi merupakan salah satu bagian mulut yang sangat penting, selain untuk mengunyah makanan gigi juga sangat menentukan penampilan seseorang. Gigi yang penuh dengan plak akan sangat mengganggu penampilan dan kesehatan.
Bakteri sangat berperan pada proses terjadinya plak. Plak pada gigi hampir tiga perempat bagian terdiri atas berbagai macam bakteri gram- positif dan gram-negatif, termasuk bakteri fakultatif anaerob dan obligat anaerob. 
Banyaknya bakteri pada mulut seseorang tergantung pada kesehatan dan kebersihan mulut seseorang, sedangkan jenis bakterinya berbeda pada berbagai tempat dalam rongga mulut. Bakteri Streptococcus, Stafilococcus, Lactobacillus, dan bakteri bentuk filament merupakan mikroorganisme yang sering dapat diisolasi dari lesi karies yang dalam. Di antara kelompok bakteri ini ternyata streptococcus paling sering ditemukan, sehingga dikatakan bahwa bakteri ini sangat berperan pada penyakit pulpa gigi. Streptococcus yang paling sering ditemukan adalah Streptococcus mutans.
Proses pembentukan plak diawali dengan pembentukan pelikel gigi dimana pada tahap ini permukaan gigi akan dibalut oleh pelikel glikoprotein. Pelikel tersebut berasal dari saliva, cairan sulkular, produk sel bakteri, pejamu, dan debris. Kolonisasi bakteri akan dijumpai dalam waktu beberapa jam pada pelikel gigi yang didominasi oleh bakteri fakultatif gram-positif, seperti Actynomyces viscosus, Streptococcus sanguis danStreptokokus sp. 
Massa plak kemudian mengalami pematangan bersamaan dengan pertumbuhan bakteri yang telah melekat, maupun kolonisasi dan pertumbuhan spesies lainnya. Tahap akhir akan berlangsung kolonisasi sekunder dan pematangan plak. Pengkoloni sekunder adalah bakteri yang tidak turut sebagai pengkoloni awal ke permukaan gigi yang bersih, diantaranya Prevotella intermedia, Prevotella loescheii, spesies Capnocytophaga, Fusobacterium nucleatum, dan Porphyromonas gingivalis, melekat ke sel bakteri yang telah berada dalam massa plak.
Jenis bakteri yang dominan pada plak gigi adalah jenis streptokokus, sedangkan jenis bakteri yang lain ditemukan bervariasi, begitu juga jumlahnya Streptokokus mempunyai sifat-sifat tertentu dalam proses karies gigi, yaitu memfermentasi berbagai jenis karbohidrat menjadi asam sehingga mengakibatkan penurunan pH, membentuk dan menyimpan polisakarida intraseluler (levan) dari berbagai jenis karbohidrat yang dapat dipecahkan kembali oleh bakteri bila karbohidrat kurang sehingga menghasilkan asam terus menerus, membentuk polisakarida ekstraseluler (dekstran) yang menghasilkansifat-sifat adhesif dan kohesif plak pada permukaan gigi, serta menggunakan glikoprotein dan saliva pada permukaan gigi.
Plak yang terus dibiarkan akan dapat menyebabkan karies gigi dan penyakit periodontal.
Pada karies diawali dengan mengkonsumsi beberapa jenis karbohidrat makanan misalnya sukrosa dan glukosa yang kemudian diragikan oleh bakteri dan membentuk asam sehingga menyebabkan pH plak akan menurun sampai di bawah 5 dalam tempo 1-3 menit. Penurunan pH yang berulang- ulang dalam waktu tertentu akan menyebabkan demineralisasi permukaan yang rentan dan proses kariespun dimulai. Makin sering keadaan asam di bawah pH 5,5 terjadi dalam plak, makin cepat karies terbentuk dan berkembang.
Sedangkan penyakit periodontal yang merupakan penyakit infeksi diawali oleh bakteri yang terakumulasi dalam plak sehingga menyebabkan peradangan pada gingiva. Plak yang terletak pada gigi dekat gingiva, prosesnya akan berlangsung mulai dari marginal dan mengarah pada penyakit-penyakit periodontal (gingivitis marginal, periodontitis marginal, bahkan hingga abses periodontal).
Plak pada margin gingiva jika tidak dihilangkan secara cermat akan mengalami pengapuran dan menjadi keras. Plak yang mengeras ini disebut kalkulus yang tidak dapat dihilangkan dengan menggunakan sikat gigi ataupun benang gigi, namun diperlukan bantuan dokter gigi untuk menghilangkannya. Pasien dengan penyakit periodontal sering mengabaikan penyakit tersebut karena sakit pada giginya tidak mengganggu aktivitas, jarang konsultasi ke dokter gigi sehingga proses periodontal akan terus berlanjut jika tidak dikenali dan ditangani lebih lanjut. Deteksi terlambat pada proses periodontal menyebabkan pembentukan dan peradangan poket, seringkali gigi sudah goyang dan penanganan lebih sulit. 

Sumber :
www.repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/28868/4/Chapter%20II.pdf
www.pps.unud.ac.id/thesis/pdf_thesis/unud-230-197837169-bab%20i.pdf

Saturday, March 15, 2014

Akhir dari Masa keemasan antibiotik


Resistensi antibiotik adalah kondisi dimana suatu strain bakteri dalam tubuh manusia menjadi resisten (kebal) terhadap antibiotik. Resistensi ini berkembang secara alami melalui mutasi dan juga bisa karena direkayasa oleh pemakaian obat antibiotik yang tidak tepat. Setelah gen resisten dihasilkan, bakteri kemudian dapat mentransfer informasi genetik secara horisontal (antar individu) dengan pertukaran plasmid. Mereka kemudian akan mewariskan sifat itu kepada keturunannya, yang akan menjadi generasi resisten. Bakteri bisa memiliki beberapa gen resistensi, sehingga disebut bakteri multiresisten atau “superbug”.
Resistensi antibiotik merupakan masalah kesehatan masyarakat utama di seluruh dunia. Ketika terinfeksi bakteri yang resisten antibiotik, pengobatan akan menjadi lebih sulit dan harus menggunakan obat yang lebih kuat dan lebih mahal dengan lebih banyak efek samping.
Banyak bakteri yang telah menjadi resisten terhadap antibiotik termasuk spesies yang menyebabkan infeksi kulit, meningitis, penyakit menular seksual, tuberkulosis, dan infeksi saluran pernapasan seperti pneumonia.
Bahkan saat ini antibiotik carbapenems misalnya yang dianggap antibiotik upaya terakhir ketika antibiotik lainnya sudah gagal mengobati infeksi namun bakteri usus sudah resisten terhadap antibiotik ini. Banyak para pakar medis sudah mewanti-wanti dalam waktu hanya 20 tahun operasi biasa saja bisa  mematikan jika kehilangan kemampuan untuk melawan infeksi.
Bahkan saat ini untuk mengobati gonorrhea hanya tinggal satu antibiotik yang tersisa.

BAHAN BACAAN :
http://majalahkesehatan.com/resistensi-antibiotik
http://gayahidup.inilah.com/read/detail/2081083/kasus-resistensi-antibiotik-meningkat-12000#.UyP5Kz9_tag

http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2013/01/130126_kesehatan_antibiotik.shtml

Wednesday, January 29, 2014

Haemophilus influenza : si bakteri penyebab influenza

Selama ini kita hanya mengetahui  penyebab influenza adalah virus. Namun ternyata bakteri juga berperan sebagai salah satu penyebab influenza. Dialah Haemophilus influenza yang pertama kali dijelaskan pada tahun 1892 oleh Richard Pfeiffer selama pandemi influenza. 
Haemophilus influenzae hidup komensal pada nasopharyng manusia normal (anak dan dewasa) dan tidak pernah mencapai cavum oris serta belum pernah dilaporkan dapat hidup pada hewan.
Haemophilus influenzae yang sebelumnya disebut basil Pfeiffer merupakan bakteri gram negative, kokobasil, non motil, serta tidak membentuk spora. H.influenzae ini termasuk family Pasteurellaceae, umumnya hidup secara aerobik, tetapi dapat juga
tumbuh sebagai anaerob fakultatif.
H.influenzae memiliki serotype dan dibedakan menjadi dua kategori utama yaitu unencapsulated strain (tidak berkapsul) dan encapsulated strain (berkapsul). Encapsulated strain diklasifikasikan berdasarkan antigen kapsuler yang berbeda, ada enam jenis encapsulated strain yang secara umum dikenali yaitu a,b,c,d,e,dan f. Sedangkan unencapsulated strain disebut nontypeable (NTHI) karena tidak memiliki antigen kapsuler.
Kapsul polisakarida tersebut (a-f) menyebabkan kuman resisten untuk difagosit dan dilisiskan oleh komplemen. Salah satu tipe kapsul tersebut yaitu Hib diketahui menjadi penyebab utama dari epiglotitis, pneumonia, bakteriemia,dan akut bacterial meningitis.
Unencapsulated Haemophilus influenzae memiliki daya invasive yang lemah, namun dapat juga menyebabkan penyakit seperti otitis media, konjungtivitis, dan sinusitis pada anak.
Umumnya H.influenzae yang hidup komensal adalah tipe NTHi (unencapsulated), namun encapsulated H.influenzae (Hib) dapat pula ditemukan pada saluran napas atas 3-7% manusia normal. Frekuensi infeksi H.influenzae meningkat pada pasien
dengan asplenia, anemia sel sabit, splenektomi, keganasan, serta anak di bawah 2 tahun tanpa vaksinasi.
Diagnosis H.influenzae secara laboratoris dapat dilakukan dengan kultur, latex particle agglutination, maupun PCR.
Spesimen diambil dari dari bagian tubuh yang steril dari kuman tersebut. Adanya H.influenzae pada sputum atau dari nasopharyng tidak mengindikasikan adanya infeksi H.influenzae sebab kuman tersebut dapat ditemukan pula pada manusia normal dengan spesimen tersebut.
Beda halnya apabila kuman H.influenzae ditemukan di LCS atau darah, hal tersebut
menunjukkan bahwa terdapat infeksi H.influenzae Haemophilus influenzae juga memiliki interaksi dengan Streptococcus pneumonia yang juga merupakan flora normal saluran nafas atas.
Pada salah satu penelitian in vitro dikemukakan bahwa S.pneumonia mendominasi pertumbuhan H.influenza dengan cara menghasilkan hidrogen peroksida dan mengurangi area tumbuh H.influenzae. Apabila H.influenzae bersama dengan S.pneumonia ditempatkan bersama pada cavum nasi selama 2 minggu, hanya H.influenzae saja yang akan bertahan hidup karena S.pneumonia yang mati akan mengirimkan sinyal kepada sistem imun host untuk memfagositnya.
Haemophilus influenzae dalam pertumbuhannya membutuhkan faktor X dan faktor V. Faktor X atau hemin merupakan substansi kompleks yang terdapat ikatan antara Fe dan porfirin. Secara spesifik, hemin adalah protoporfirin IX yang mengandung ion Fe dan clorida.
Sedangkan faktor V adalah nicotinamide adenine dinucleotide (NAD) merupakan koenzim yang berperan dalam reaksi redox pada metabolisme sebagai pembawa elektron.
Kedua faktor pertumbuhan tersebut terdapat di dalam eritrosit. Di laboratorium kedua faktor tersebut didapatkan dengan cara memanaskan darah pada suhu 80OC, eritrosit melepaskan NAD dan hemin serta membuat media tersebut berwarna coklat sehingga disebut coklat agar.
Pertumbuhan H. influenzae umumnya dilakukan pada inkubasi CO2 5,5% dengan
suhu 37OC dan pH optimum 7,6 walaupun kuman tersebut dapat tumbuh pada suasana aerob dengan menggunakan nitrat sebagai akseptor elektron final. Haemophilus influenzae juga dapat tumbuh pada zona hemolisis Staphylococcus aureus karena di zona tersebut terdapat factor X dan V yang dibutuhkannya untuk
tumbuh, sebaliknya H.influenzae tidak akan tumbuh diluar zona hemolisis S.aureus karena kurangnya nutrisi di zona tersebut.

Pustaka
Duta Indriawan, optimalisasi agar coklat darah manusia sebagai media uji sensitivitas antibiotik terhadap Haemophilus influenzae : peran pencucian eritrosit sebanyak empat kali, proposal Karya Tulis Ilmiah mahasiswa program strata-1 kedokteran umum, PROGRAM PENDIDIKAN SARJANA KEDOKTERAN, FAKULTAS KEDOKTERAN, UNIVERSITAS DIPONEGORO, Semarang, 2012

Sunday, April 14, 2013

Leptospira pada minuman kaleng



Pernah dengar berita tentang minuman kaleng yang dikencingi tikus dan menyebabkan kematian?
Berita tersebut memang terbukti hoax alias tidak benar. Karena jika kita mempelajari lebih dalam tentang si bakteri Leptospira, membutuhkan waktu inkubasi penyakit yang cukup lama. Tidak serta merta menyebabkan kematian. Masa inkubasi Leptospirosis pada manusia yaitu 2 – 26 hari. Infeksi Leptospirosis mempunyai manifestasi yang sangat bervariasi dan kadang tanpa gejala, sehingga sering terjadi kesalahan diagnosa
Perjalanan penyakit Leptospira terdiri dari 2 fase, yaitu fase septisemik dan fase imun. Pada periode peralihan fase selama 1-3 hari kondisi penderita membaik. Selain itu ada Sindrom Weil yang merupakan bentuk infeksi Leptospirosis yang berat.
Gejala dini Leptospirosis umumnya adalah demam, sakit kepala parah, nyeri otot, merah, muntah dan mata merah. Aneka gejala ini bisa meniru gejala penyakit lain seperti selesma, jadi menyulitkan diagnosa. Malah ada penderita yang tidak mendapat semua gejala itu.
Ada penderita Leptospirosis yang lebih lanjut mendapat penyakit parah, termasuk penyakit Weil yakni kegagalan ginjal, sakit kuning (menguningnya kulit yang menandakan penyakit hati) dan perdarahan masuk ke kulit dan selaput lendir. Pembengkakan selaput otak atau Meningitis dan perdarahan di paru-paru pun dapat terjadi. Kebanyakan penderita yang sakit parah memerlukan rawat inap.  Leptospirosis yang parah dan telah menginfeksi serta terjadi kegagalan organ-organ penting seperti otak, ginjal, dll bisa menyebabkan kematian.
Tapi untuk kehati-hatian, memang sebaiknya jika mengkonsumsi apapun dibersihkan terlebih dahulu minimal dengan air bersih.

Thursday, July 12, 2012

Media Gula-gula

Thursday, March 29, 2012

Hitung Jumlah Kuman

Ilustrasi : whyislam.org
        HJK (Hitung Jumlah Kuman) adalah pengujian sampel secara bakteriologik secara umum ditujukan untuk mengetahui jumlah bakteri.
Hitung jumlah kuman ada 2 cara :
          Untuk menghitung jumlah bakteri secara keseluruhan (total cell count) yaitu dihitung semua bakteri baik yang hidup maupun yang mati menggunakan cara :
a) Menghitung langsung secara mikroskopik.
        Pada cara ini dihitung jumlah bakteri dalam satuan isi yang sangat kecil, untuk itu digunakan kaca objek khusus yang bergaris (Petroff-Hauser) berbentuk bujur sangkar. Cara ini hanya dapat digunakan untuk cairan yang mengandung bakteri dalam jumlah tinggi (Lay, 1994).
b) Menghitung berdasarkan kekeruhan
        Dasar teknik ini adalah banyaknya cahaya yang diabsorbsi sebanding dengan banyaknya sel bakteri pada batas-batas tertentu. Pada umumnya untuk menghitung dengan cara ini digunakan turbidimetri (Lay, 1994 ).
          Sedangkan untuk perhitungan hanya Bakteri yang hidup ada 3 cara, yaitu:
a) Standart Plate Count
        Pengenceran dilakukan dengan menggunakan sejumlah botol pengencer yang diisi sampel dan aqua destilata steril. Agar cair didinginkan sampai suhu sekitar 44ºC dan baru kemudian dituangkan ke cawan petri setelah agak membeku cawan dieramkan selama 24-48 jam (37ºC).
b) Plate Count
        Sampel dipipet lalu dimasukkan dalam cawan petri kosong steril, lalu dituang dalam media agar yang mencair, dengan suhu sekitar ± 45ºC lalu digoyangkan dengan hati-hati sehingga sampel dan media tercampur rata. Dibiarkan memadat.
c) Agar sebar
        Sebanyak 0,1 ml sampel dimasukkan pada permukaan agar yang sudah memadat dalam cawan petri. Kemudian sampel diratakan di atas permukaan media tersebut dengan bantuan alat perata atau spreader (Lay, 1994).
Angka Lempeng Total
        ALT (Angka Lempeng Total) adalah metode untuk menetukan jumlah kuman , tidak membedakan spesiesnya dan bersifat semi kuntiatif.  Gabungan dari Metode Pengenceran dan Hitung Cawan.
 Tujuan Pemeriksaan ALT
      Untuk mengetahui jumlah koloni kuman dalam sampel
      Untuk memeriksa kualitas air
      Untuk mengetahui apakah sampel tercemar oleh feses
Prinsip Kerja  ALT
Menentukan jumlah kuman yang hidup tidak berdasarkan spesiesnya kemudian jumlah koloni dikalikan faktor pengenceran pada kolerasi 30-300 koloni.
Media yang digunakan :
  1. Pengenceran berseri
        - Saline
    b.  Hitung cawan
        -PCA/NA
Syarat pengambilan sampel
        1. Botol yg digunakan steril
        2. Pengambilan sampel harus secara aseptik
        3. Sampel yang diambil untuk diperiksa harus mewakili keseluruhannya
       
Batas penundaan pemeriksaan 1-12 jam
Prosedur kerja ALT

Ose Kalibrasi
  1. Pengertian
        Ose kalibrasi adalah ose yang bulatannya telah diketahui volumenya. Ose kalibrasi digunakan untuk menyetrik sampel ke dalam agar cawan. Banyaknya koloni yang tumbuh dikali fakor perkalian ose kalibrasi.
  1. Prinsip Ose Kalibrasi
        Menghitung jumlah kuman yang hidup berdasarkan dengan     mengalihkan jumlah kuman yang hidup dengan factor pengenceran yang didapat dengan cara ose kalibrasi dalam 1 ml air
c. Prosedur Kerja Ose Kalibrasi


                 
Spread Method(Metode sebar) 
Prinsip : Teknik penanaman didasarkan pada penyebaran sel pada permukaan agar.
        Volume sampel yang ditanamkan umumnya 0,1 ml pada cawan dengan diameter +/-9 cm. volume yang tepat untuk disebarkan diatas permukaan agar dan cukup mudah mengering sehingga tidak menggenangi permukaan agar. Secara peluang, sel bakteri dapat terambil dengan acak dan seragam dari tabung.
 Cara kerja
  1. Disiapkan PCA dalam cawan petri steril, biarkan membeku
  2. kemudian dipipet 0,1 ml sampel yang telah diencerkan, kemudian dimasukkan ke atas permukaan agar PCA.
  3. Batang hockey stick dicelupkan ke dalam Alkohol 70 % dan dipijarkan hingga alkohol habis terbakar
  4. Setelah dingin, hockey stick tersebut digunakan untuk meratakan sampel diatas media agar dengan cara memutarkan cawan diatas meja.
  5. Di inkubasi dengan posisi tutup cawan berada di bagian bawah.
  6. Di inkubasi selama 24 jam pada suhu 35 – 37 C.
 Kelemahan Spreading Method (Metode Sebar)
        Jika digunakan volume <0,1, maka kemungkinan kesalahannya adalah sel tidak tersebar merata (tidak tersapu oleh batang L) karena volume pelarut kurang walaupun dengan pengenceran yang tepat. Semakin kecil volume berarti semakin sedikit yang terambil oleh pipet, yang menunjukkan bahwa kesalahan teknis pemipetan semakin tinggi dan kesempatan sel yang tersebar secara acak dalam pelarut untuk terambil oleh pipet semakin tidak seragam. Selain itu juga adanya sedikit volume yang masih menempel dan tersisa (tidak ikut tertekan keluar) sangat besar pengaruhnya pada hasil yang diperoleh
        Jika volume sampel >0,1 ml, maka volume yang lebih besar otomatis air di permukaan agar lebih banyak sehingga sulit mengering dan dapat menyebabkan pertumbuhannya memenuhi seluruh permukaan agar karena sel dapat disebarkan oleh air.
        Penggunaan teknik penanaman ini sebaiknya dari jenis sampel yang memiliki densitas sel yang tinggi dan dengan pengenceran tertentu yang sesuai. Lebih baik tidak menganalisa jenis sampel seperti air mineral dalam kemasan dengan teknik ini karena dikhawatirkan jika terdapat pertumbuhan maka pertumbuhan tersebut kemungkinan besar adalah kontaminan. Hal ini disebabkan oleh sedikitnya jumlah sel per satuan volum dalam air mineral tersebut, dan jika dari sekian ratus ml sampel hanya diambil 0,1 ml-nya maka secara nalar peluang untuk terambil sangat kecil.
Pour Plate (Teknik Tuang)
          Prinsip : Teknik penanaman dengan cara mencampurkan sampel yang mengandung sel mikroba dengan media pertumbuhan (agar) sehingga sel-sel tersebut tersebar merata dan diam baik di permukaan agar atau di dalam agar.
        Konsekuensinya adalah tidak semua jenis mikroorganisme dapat tumbuh di dalam agar (bersifat mikroaerofilik). Volume yang dipakai pada umumnya adalah 1-2 ml pada cawan dengan diameter 9 cm dan dengan penambahan media 5-10 ml. Sebaiknya sampel yang dipakai untuk teknik ini memiliki densitas sel > 30 sel/ml sehingga didapatkan kisaran 30-300 koloni/cawan.
Prosedur
  1. 1 ml sampel yang telah diencerkan, dipipet ke dalam cawan petri
  2. Kemudian ke dalam cawan tersebut dimasukkan agar cair yang telah disiapkan pada suhu kurang lebih 45 C sebanyak 20 – 25 mL
  3. Selama penuangan, tutup media tidak boleh dibuka terlalu lebar untuk menghindari kontaminasi dari luar
  4. Setelah dituang lalu diinkubasi 37 C selama 24 jam dan keesokan harinya dihitung banyaknya koloni.
Kelemahan
        Jika digunakan volume <1ml, maka semakin kecil volume berarti semakin sedikit yang terambil oleh pipet, yang menunjukkan bahwa kesalahan teknis pemipetan semakin tinggi dan kesempatan sel yang tersebar secara acak dalam pelarut untuk terambil oleh pipet semakin tidak seragam. Selain itu juga adanya sedikit volume yang masih menempel dan tersisa (tidak ikut tertekan keluar) dapat berpengaruh terhadap hasil yang diperoleh.
        Jika > 2 ml maka semakin besar ukuran sampel maka kekuatan agar semakin berkurang dan lama memadat sehingga dapat mempertinggi resiko kesalahan teknis seperti agar jatuh ke tutup cawan. Semakin besar ukuran sampel berarti semakin kecil konsentrasi komposisi media semakin encer) dengan penambahan media yang semakin berkurang jika digunakan ukuran cawan yang sama.
        Selain itu, semakin besar ukuran sampel dan jika ditambah dengan volume media yang sama maka pada saat pencampuran (swirl) dapat beresiko tumpah dan membasahi celah antara tutup dan dasar cawan petri yang akhirnya mempertinggi kontaminasi karena bakteri kontaminan yang menempel pada tempat itu dapat tumbuh. Ketiga alasan inilah yang menjadi keterbatasan metode pour plate.
V. Perhitungan Cara Langsung Dengan Mikroskop
      Penghitungan secara langsung dapat dilakukan secara mikroskopis yaitu dengan menghitung jumlah bakteri dalam satuan isi yang sangat kecil. Alat yang digunakan adalah Petroff-Hauser Chamber atauHaemocytometer. Jumlah cairan yang terdapat antara coverglass dan alat ini mempunyai volume tertentu sehingga satuan isi yang terdapat dalam satu bujur sangkar juga tertentu.
      Ruang hitung terdiri dari 9 kotak besar dengan luas 1 mm². Satu kotak besar di tengah, dibagi menjadi 25 kotak sedang dengan panjang 0,2 mm. Satu kotak sedang dibagi lagi menjadi 16 kotak kecil. Dengan demikian satu kotak besar tersebut berisi 400 kotak kecil. Tebal dari ruang hitung ini adalah 0,1 mm. Sel bakteri yang tersuspensi akan memenuhi volume ruang hitung tersebut sehingga jumlah bakteri per satuan volume dapat diketahui.
        Cara kerja :      
1. Digunakan kotak sedang
2. Bersihkan Petroff-Hauser Counting Chamber atau Haemocytometer dengan alkohol 70 % lalu
3. keringkan dengan tissue.
4. Letakkan cover glass di atas alat hitung.
5. Sampel diberi pewarnaan akan memeperjelas pengamatan. Misal : Methylen Blue.
6. Tambahkan ± 50 µl suspensi sel yeast (kira-kira 1 tetes) dengan cara meneteskan pada parit kaca pada alat hitung. Suspensi sel akan menyebar karena daya kapilaritas.
7. Biarkan sejenak sehingga sel diam di tempat (tidak terkena aliran air dari efek kapilaritas).
8. Letakkan alat hitung pada meja benda kemudian cari fokusnya pada perbesaran 40x10.
9. Lakukan perhitungan secara kasar apakah diperlukan pengenceran atau tidak. Jika dalam satu kotak sedang terdapat sel-sel yang banyak dan bertumpuk maka perhitungan akan tidak akurat dan diperlukan pengenceran dengan perbandingan 1:5 atau 1:10.
10. Hitung sampel, paling tidak sebanyak 5 kotak sedang (lebih banyak lebih baik). Hasil perhitungan dirata-rata kemudian hasil rataan dimasukkan rumus untuk kotak sedang. Jika dilakukan pengenceran maka jumlah sel/ml dikalikan faktor pengenceran.