Monday, September 19, 2011

Echinococcus granulosus : cacing pita anjing

  A.Klasifikasi Echinococcus granulosus
Kingdom        : Animalia
Filum              : Platyhelminthes
Kelas              : Cestoda
Ordo               : Cyclophyllidea
Famili             : Taeniidae
Genus                        : Echinococcus
Spesies          : Granulosus

  B. Hospes dan Nama Penyakit
Hospes definitif dari Echinococcus granulosus adalah hewan karnivora terutama anjing, srigala, dan lain-lain. Sedangkan hospes perantaranya adalah manusia, kambing, domba, sapi, dan lain-lain. Penyakit yang disebabkan oleh infeksi cestoda ini adalah echinococcosis atau penyakit hidatidosis (disebabkan larvanya).

C.   Penyebaran Geografis
Penyebaran infeksi Echinococcus granulosus tersebar di seluruh dunia terutama di daerah pedesaan dan pinggiran yang daerah tersebut terdapat banyak anjing yang memakan daging hewan yang mengandung kista hidatid. Echinococcus granulosus memiliki fokus endemik di Amerika Selatan yaitu pada peternakan domba dan sapi di Argentina, Uruguay, Brazil Selatan, dan Chili. Kista Hidatid seringkali menginfeksi anak-anak dan tumbuh terus tanpa diketahui selama bertahun-tahun.


Distribusi geografik dari Echinococus granulosus (warna hitam)





D.   Siklus Hidup

Cacing dewasa Echinococcus granulosus  (panjangnya 3 - 6 mm)  berada di usus halus hospes definitif misalnya anjing. Lalu proglotid melepaskan telur yang keluar bersama feses.  Kemudian tertelan oleh hospes intermediat yang sesuai (biri-biri, kambing, babi, sapi, kuda, onta) setelah itu telur menetas di usus halus dan onkosfer keluar  onkosfer menembus dinding usus dan menuju sistem peredaran ke berbagai organ, terutama hati dan paru-paru.  Di hati dan paru-paru onkosfer berkembang menjadi kista  kemudian berkembang secara berangsur-angsur, menghasilkan protoskoleks dan anak kista yang mengisi kista interiorHospes definitif dapat terinfeksi dengan cara memakan daging hospes intermediet yang mengandung kista hidatid.  Setelah tertelan, protoskoleks  melakukan evaginasi, menuju ke mukosa usus  dan berkembang menjadi cacing dewasa  setelah 32 sampai 80 hari kemudian proglotid melepaskan telur. Hospes intermediat terinfeksi dengan cara menelan telur  kemudian menetas menghasilkan onkosfer  pada usus dan menjadi kista di ,     dalam berbagai organ.
E.   Morfologi
Cacing dewasa berukuran kecil panjangnya 3-6 mm terdiri dari skoleks, leher, dan sebuah strobila yang hanya terdiri dari 3-4 segmen. Perkembangan segmennya  yaitu immatur, matur, dan gravid. Segmen gravidnya merupakan segmen terbesar yang panjangnya 3-4 mm dan lebarnya 0,6 mm. Skoleksnya terdiri dari 4 alat isap dengan rostelum yang dilengkapi 2 deret kait yang melingkar.







Cacing dewasa Echinococcus granulosus



F.    Gejala Klinik
Echinococcus granulosus menginfeksi selama bertahun-tahun sebelum kista membesar dan menyebabkan gejala saat tersebar ke organ-organ vital. Bila menginfeksi hati maka terjadi rasa sakit dan nyeri di bagian abdominal, benjolan di daerah hati, dan obsruksi saluran empedu. Pada saat kista menginfeksi paru-paru menyebabkan dada sakit dan batuk hemoptysis. Kista yang menyebar ke seluruh organ dapat menyebabkan demam, urtikaria, eosinofilia, dan syok anafilaktik. Kista dapat menyebar hingga ke otak, tulang, dan jantung.

G.   Pencegahan
Beberapa tindakan pencegahan dilakukan untuk menurunkan insiden infeksi :
1.    Semua hewan yang menjadi hospes perantara ketika selesai disembelih harus dibuang dan dijauhkan dari anjing agar tidak dimakan sehingga tidak berkembang menjadi cacing dewasa
2.    Ditekankan kesehatan perorangan untuk mencegah tertelannya telur infektif yang terkontaminsi feses anjing, karena telurnya sangat resisten terhadap desinfektan
3.    Melakukan tindakan kontrol yang ekstensif untuk mengurangi penularan penyakit hidatid
4.    Program pendidikan dan penyuluhan terhadap masyarakat

H.   Diagnosa
1.    Pemeriksaan hematologi
Dilakukan pemeriksaan darah dengan melihat jumlah eosinofil dan dilihat presentase lekosit jenis eosinfil pada pemeriksaan differensial lekosit. Eosinofilia sering terjadi sekitar 20-25% pada kasus infeksi Echinococcus granulosus namun tidak terlalu memberi makna yang berarti.







Eosinofil pada sediaan darah differensial




2.    Mikroskopis cairan kista hydatid
Prinsip pemeriksaannya adalah setetes cairan kista yang sudah disentrifuge diteteskan pada objek gelas, dengan objek gelas lainnya dibuat apusan kemudian dilakukan pewarnaan tertentu dan diamati secara mikroskopis. Pada saat pembuatan hapusan terjadi goresan antara kait-kait dengan objek gelas sehingga terdengar seperti suara goresan kaca di atas pasir (hydatid sand).
Pemeriksaan ini dilakukan apabila ditemukan kista pada saat pembedahan dari infeksi kista hidatid, maka sebagian cairan kista dapat diaspirasi dan diperiksa secara mikroskopis untuk mendeteksi adanya “hydatid sand” sehingga dapat dipastikan diagnosisnya. Aspirasi kista juga biasanya dilakukan pada saat akan dilakukan tindakan bedah. Tindakan ini beresiko akan adanya kemungkinan bocornya cairan sehingga menyebar ke jaringan.
            Namun hidatid sand tidak selalu ada. Karena jika kista sudah tua, anak kista dan/ atau skoleks mungkin juga rusak sehingga yang tersisa hanya kait-kaitnya. Keadaan ini menyulitkan untuk menemukan dan identifikasinya apalagi jika terdapat debris di dalam kista. Hydatid sand juga dapat diperiksa dari sampel urin dan sputum, yaitu pada :
a.    Pemerikssan Urin
Pemeriksaan ini dilakukan untuk memastikan adanya infeksi hydatid  yang menginfeksi organ ginjal. Sehingga cairan kista akan dikeluarkan juga melalui urin. Sehingga pemeriksaan ini bertujuan untuk menemukan hydatid sand pada urin.
b.    Pemeriksaan sputum
Pemeriksaan ini dilakukan untuk memastikan adanyan infeksi hydatid   yang menginfeksi organ paru-paru. Sehingga pemeriksaan ini dilakukan untuk menemukan hydatid sand pada sputum.
Apabila skoleks masih tetap utuh pada pemeriksaan mikroskopik, maka dari cairan sentrifuge dijadikan sediaan basah untuk memastikan diagnosis ditemukannya skoleks. Apabila tidak ditemukan hydatid sand dan skoleks, diagnosis dapat dilanjutkan dengan pemeriksaan histologi dari dinding kista pada jaringan.

Kait-kait pada hydatid sand







3.    Mikroskopik Jaringan
Pemeriksaan kista hidatid secara mikroskopik pada jaringan diperiksa ketika pasien dengan adanya masa pada abdomen dan tidak diketahui diagnosisnya secara pasti. Tes ini dilakukan dengan mengambil sampel dari pembedahan untuk mengambil jaringan hati, tulang, paru-paru dan jaringan lainnya lalu dibuat penampang melintang misalnya jaringan tulang lalu dibuat preparat histologi jaringan dan diwarnai dengan hematoxilyn dan eosin.







Protoskoleks dalam kista hidatid yang diambil dari jaringan tulang




Protoskoleks dalam kista hidatid yang diambil dari jaringan hati



4.    Tes Serologi
Antibodi pasien terhadap Echinococcus granulosus yang terdapat dalam serum dapat dideteksi dengan pemeriksaan serologi yang meliputi IHA (Indirect hemagglutination), IFA (indirect fluorescent antibody), ELISA, CF, LA (latex aglutinasi), IE (immunoelektoforesis) ID,  dan Indirek hemaaglutination.
Tes serologi merupakan test yang sensitif untuk mendeteksi antibodi di dalam serum pasien infeksi kista hidatid, sensitifitas bervarisi antara 60% hingga 90%, tergantung karakteristik dari kista hydatidnya. Sensitifitas ini dipengaruhi oleh beberapa hal :
a.    Jenis organ tubuh yang terinfeksi
Kista di dalam jaringan hati lebih memberikan respon imunitas dibanding kista di paru-paru. Kista memproduksi antigeni stimulasi  dengan titer rendah, namun jika hampir 5 sampai 10% kista di hati sudah menimbulkan tes serologi positif, tetapi kista di paru-paru  jika hampir 50% masih menghasilkan tes serologi negatif
b.    Permukaan kista hidatid
Permukaan yang kasar dari kista umumnya menentukan titer antigen. Bentuk permukaan dan kerusakan pada jaringan yang terinfeksi dapat meningkatkan antibodi
Untuk mendapatkan hasil pemeriksaan serologi yang lebih akurat digunakan kombinasi teknik pemeriksaan, yaitu teknik EIA dan IHA yang biasanya digunakan sebagai tes skrining untuk semua spesimen, kemudian reaksi positif dikonfirmasikan dengan tes immunoblot assay atau gel difusion assay yang menunjukkan hasil echinococcal “Arc 5". Kelemahan tes konfirmasi adalah memberikan reaksi positif palsu sekitar 5% hingga 25% pada penderita neurocysticercosis. Sehingga secara klinis dan presentase epidemiologi kasus pasien neurocysticercosis sering terjadi kerancuan dengan kasus kista hidatid. Namun untuk konfirmasi yang lebih spesifik atau reaktif terhadap serum dapat dilakukan dengan teknik imunoelektroforesis untuk mendeteksi diagnosa dan membedakan di dalam serum secara elektroforesis.
Respon  antibodi dapat juga dimonitor untuk mengevaluasi hasil dari terapi, tapi dengan hasil yang bervarisiTergantung keberhasilan dari terapi misalnya keberhasilan suatu pembedahan, maka titer antibodi juga menurun dan bahkan hilang, namun titer akan naik lagi jika kista sekunder berkembangTes untuk Arc 5 atau antibodi IgE tampak mencerminkan kemerosotan antibodi selama yang pertama 24 bulan setelah pembedahan, sedangkan IHA dan test lain masih positif paling tidak selama 4 tahun. Keberhasilan pembedahan untuk mengeluarkan kista hidatid akan diikuti penurunan titer antibodi sampai beberapa tahun setelah pembedahan tapi hal ini memerlukan tes spesimen secara berkala. Kemoterapi tidak mengikuti kemerosotan titer yang konsisten di dalam serum.  Sehingga manfaat dari pemeriksaan serologi untuk memonitor perjalanan penyakit terbatas yang juga tergantung dari kondisi pasien.

5.    Tes Kulit (tes intradermal)
Tes kulit atau tes intradermal berhubungan erat dengan tes serologi, yaitu menggunakan antigen tes kulit Casoni yang merupakan antigen yang bersal dari cairan kista hydatid, tes ini mempunyai banyak keuntungan karena kesederhanaannya dan sebanding dengan tes serologi, namun kelemahan tes kulit adalah kurang spesifik. Ini dikarenakan tes kulit belum terstandarisasi secara baik sehingga sering terlihat adanya kekurangan dari spesifitas dan sensitifitasnya. Tes Casoni merupakan salah satu cara untuk mengetahui pemaparan dari penyakit hidatid namun kendala utamanya yaitu kurangnya spesifitas. Pada pasien yang mengandung kista hyalin maupun kista yang utuh, sentifitas diagnostiknya terbatas. Respon imun lebih sering dideteksi pada pasien dengan kista hati dibanding kista paru-paru.
Tes kulit telah digunakan untuk penunjang pembuktian infeksi secara tidak langsung, apabila tidak ada tes serologi diagnostik yang tidak dapat dipercaya. Banyak dari tes kulit terutama digunakan untuk kepentingan penelitian dan epidemiologi. Namun banyak kasus, antigen yang digunakan sulit didapat dan tidak terdapat di pasaran.
Reaksi positif palsu juga pernah dilaporkan pada pasien nonparasit dan penyakit parasit lainnya. Antigen casoni juga dapat mensinsitisasi pasien sehingga memproduksi antibodi dan juga pernah dilaporkan terjadinya reaksi anafilaktik.

6.    Tes Radiologi
Kista-kista asimptomatik ditemukan pada pemeriksaan radiologis. Kista biasanya memiliki batas yang jelas dan terkadang terlihat tanda batas cairan (fluid level). Pemeriksaan ini juga dapat membantu diagnosis kelainan pada tulang. Scan juga juga dapat menunjukkan lesi desak ruang (space occupying lesion) terutama di dalam hati. Apabila kistanya besar dan lokasinya di abdomen, kadang-kadang dapat dideteksi gelombangnya.
X-ray dapat menunjukkan kista hidatid di dalam paru-paru dan jantung. Kista yang tidak terkalsifikasi di tempat lain mungkin terdeteksi pemindahan atau pembesaran organ dengan Ultrasound dan CT scan, sehingga hasil dapat ditunjukkan kista pada hati, otak,  ginjal, atau jaringan lainnya. Jika tidak tersedia, maka radioisotop atau angiografi dapat digunakan. Kista yang terkalsifikasi dapat ditemukan dimana saja. Namun kista di paru-paru jarang terjadi kalsifikasi.

                                                     



Computed tomography (CT) scan : menunjukkan adanya kista hydatid pada hati

Ultrasonography : menunjukkan adanya membran dari kista hydatid
 









Radiografi : menunjukkan adanya kista hydatid pada tulang










BAB III
Penutup
Kesimpulan
            Dari teknik- teknik pemeriksaan yang telah disebutkan ternyata telah banyak pengembangan mengenai diagnosa yang tepat mengenai pemeriksaan Echinococcus granulosus. Sampel bisa didapat dari darah, jaringan tubuh, whole blood, serum, urin, sputum dan lain-lain. Pemeriksaan menggunakan teknik yang bertahap dari pemeriksaan skrining hingga untuk pemriksaan konfirmasi sehingga didapatkan pilihan diagnosa sesuai keadaan yang dibutuhan, sehingga memudahkan diagnosa yang tepat dan pengobatan yang tepat terhadap infeksi kista hydatid.























Daftar Pustaka
Goldsmith, Robert. 1989. Tropical Medicine and Parasitology. Norwalk Usa : Appleton and Lange.
Lynne S, Garcia, dkk. 1996. Diagnostik Parasitologi Kedokteran. Jakarta: EGC.
Prasetyo, Heru. Pengantar Praktikum Helmintologi Kedokteran.  Jakarta : DEPKES RI.
http://www.cdc.gov/
http:// www.dpd.cdc.gov/
http:// www.medscape.com/
http://www.michigan.gov/
http://www.scielo.cl/

Thursday, August 4, 2011

Kromatografi Gas


Ilustrasi : faktailmiah.com

Kromatografi Gas adalah teknik pemisah dari campuran zat yang menguap kedalam aliran gas pembawa yang mengali, melewati kolam dan dipisahkan, hasil pemisahan keluar dari kolom untuk di evaluasi,dan dideteksi secara elektrik pd rekorder. Waktu yang diperoleh dari masing-masing komponen yang timbul menunjukan waktu retensi dank has luas puncak yang dihasilkan sebanding dgn jumlah yang terkandung, adanya parameter ini kromatografi gas dapat menetapkan kualitatif dan kuantitatif.
     
      Kondisi contoh yang ideal pada pengujian cesara kromatografi gas harus mudah menguap dan tidak  mengalami peruraian bentuk atau reaksi kimia, dan harus bergerak cepat kedalam kolom. Dalam kromatografi gas fase gerak adalah gas inert dan fase diam adalah zat padat atau zat cair yang diatur cukup padat didalam kolam

Kroamtografi gas padat atau gas “solid chromatography “bila fase diamnya berupa zat padat, sedangkan bila berupa lapisan tipis zat cair yang membungkus bahan penyangga yang iner maka disebut Kromatografi gas cair atau gas “liquid Chromatography”. Zat padat dalam kromatografi gas padat biasanya adalah : alumina, silica gel, charcoal atau ayakan molekuler dan serapan selektif pada zat padat diikuti pemisahan. Kromatografi gas cair lebih popular dan sangat penting, gas pembawa berjalan sambil membawa contoh melalui kolom dimana partisi contoh dalam gas dan cairan tetap.

II.    Sistem kromatografi gas
Alat kromatografi gas terdiri dari beberapa bagian yang merupakan suatu rangkaian system yang masing-masing sangat menentukan didalam penggunaan alat, untuk melakukan pengujian suatu senyawa baik secara kualitatif dan kuantitatif.

Gambar
                                                    3                          5
                                                            
                                                                            4                                       
                                   2                                                                            6
            1                                                    
                                                                  OVEN   7


Keterangan :
  1. Tangki gas pembawa
  2. Pengendali aliran dan pengatur tekanan
  3. tempat menyuntik sample ( injector )
  4. Kolom
  5. Detektor
  6. Perekam
  7. Termostat untuk injector, koloin dan detector
A.Gas Pembawa

Gas yang biasa digunakan pada kromatografi gas yaitu : nitrogen, helium, argon dan hydrogen,

Syarat untuk gas pembawa :

  1. Iner, untuk mencegah inter aksi dengan contoh atau pelarut contoh
  2. Murni dan mudah diperoleh
  3. Murah
  4. Kefesien difusi conroh pd gas tsb rendah
  5. Docok untuk detector yang digunaan



B. Bahn penyangga padat

Penggunakan bahan penyangga bermaksud untuk memperoleh permukaan yang luas dan iner bagi lapisan Fase diam.

Persyaratan nya :

  1. Iner mempunyai inter aksi kimia dan inter aksi penyerapan dengan contoh yang minimal.
  2. Mempunyai permukaan yg luas ( 1 – 20 m2  tiap gram )
  3. Berukuran serba sama dan entuknya teratur untuk memudahkan pengepakan, berpori dengan ukuran kira-kira 10 µm atau kurang.

Bahan baku untuk penyangga biasanya diatomae yang merupakan senyawa silikat dengan sedikit pengotoran dan osida logam. Didalam prdagangan dikenal dengan Chromosorb A,G,P,W dan T.

Chromosorb A  : digunakan untuk kromatografi Gas sekala preparative

Chromosorb G  :  Digunakan untuk memisahkan senyawa polar

Chromosorb  P  :   Dibuat dari bata merah, merupakan diatomae yang dikalsinasi,
berwarna merah. Digunakan terutama untuk hidrokarbon.

Chromosorb  W : Warna putih, tidak menyerap, sagat cocok digunakan untuk
                             pemisahan senyawa polar.

C. Fase diam / Fase cair

Yang terpenting dalam kromatografi Gas  cair adalah pemilihan Fase cair/ fase diam
yang tepat idealnya zat cair yang digunakan memenuhi persyratan Sbb :
1.      Pelarutan mutlak yang baik bagi komponen-komponen contoh jika kelarutan rendah komponen terelusi cepat dan pemisahan akan tidak sempurna
2.      Komponen-komponen contoh mempunyai koefisien partisi yang berbeda-beda
3.      Tidak menguap, tekanan 0,01 hingga 0,1 mm pada percobaan untu umur kolom yang cukup.
4.      Tahan panas, ketidak setabilan dapat disebabkan oleh efek bahan penyangga karena suhu dinaikan.

Yang sering digunakan : SE 30, OV, Carbowax

Fase cair dipilih tergantung dari komponen contoh, diharapkan tipe komponen yang ada didalam contoh kelak diketahui sebelum pengujian dilakukan. Dengan demikian akan memudahkan didalam pemilihan dan penyiapan kolom sesuai yang diperlukan. Didalam pemisahan yang normal, fase cair harus sesuai struktur kimianya dengan komponen didalam campuran, missal : senyawa hidrokarbon, senyawa polar pada pelarut polar, alcohol pada halkoamida.

Bila campuran komponen dari klaa kimia yang berbeda, tetapi titik didih yang sama, maka harus digunakan fase cair dengan polaritas yang berbeda. Jumlah fase cair yang digunakan harus cukup untuk membentuk lapisan tipis yang serba sama pada partikel bahan penyangga. Effisiensi kolom dapat dipertinggi dengan menurunkan jumlah ini. Jenis bahan penyangga yang digunakan dari polaritas contoh menentukan konsentrasi fase cair pada bahan penyangga.

D. KOLOM

Yang dimaksud kolom meliputi jenis kolom, isi kolom, yang terdiri dari fasecair dan bahan penyangga, bentuk kolom serta cara pembuatan kolom.
Ada dua macam jenis kolom yaitu  : “pecked kolom dan kapiler kolom “ sedangkan bentuk kolom bermacam-macam misalnya lurus,spiral,huruf U dll

Bahan gelas lebih disukai karena iner, panjang kolam biasanya 0,5 – 10 meter dengan diameter antara 3 – 1-  mm, sedangkan kapiler kolom panjang antara 10 – 50 meter, dengan diameter 0,1 – 1,2 mm, sedangkan fase diam dari kapiler kolom adalah berupa lapisan fase cair melekat pada dinding sebelah dalam dari kolom kapiler

E    SUHU

Suhu dari tempat penyuntikan,kolom dan detector. Pada pengujian dengan kromatografi gas pengaturan suhu tersebut biasanya sudah dicantumkan dalam pustaka,sehingga hanya dicari parameter yang lain mengingat sifat dari alat berbeda, baik merek dan tife yang sama. Suhu tempat penyuntikan, kolom dan detector selama pengujian dengan alat kromatografi gas berlangsung harus tetap.


F. DETEKTOR

Detektor pada alat kromatografi gas adalah suatu alat yang menyatakan jumlah komponen yang dipisahkan pasa gas pembawa. Detector pada umumnya universal
Berdasarkan resfon ynag diberikan terhadap jumlah komponen yang keluar dari kolom maka detector dapat dibagi menjadi  : “ Integral detector dan Differential detector” . Integral detector, memberikan respon sebanding dg jumlah total dari komponen – komponen yang keluar dari kolom . Differential detector, Memberikan  respon dg konsentrasi dari masing-masing komponen, tetektor ini yg umim digunakan.

Macam-macam detektor

1.      FID ( Flame Ionisation Detektor )
FID Memberikan Respon hamper kepada setiap senyawa, kecuali udara, air dan gas mulia.

2.      ECD ( Electron Capture Detektor )
ECD sangat selektif dan sensitive terhadap alkyl halide, karbinil yang terkonjugasi. Nitril, nitrat. Selektifitas dan sensitifitasnya dari ECD membuat detector ini digunakan untuk pengujian residu pestisida, karena dapat mendeteksi dibawah subpoligram.

3.      TCD ( thermal Conductivity Detector )
Umumnya digunakan untuk analisa air dan senyawa anorganik

4.      MCD ( Micro Coulometric Detecror )
Untuk analisa atom, N2 O2 ,S dan terutama halogen.

5.      FPD ( Flem Photometric Detector )
Untuk Analisa senyawa yang mengandung fosfor, sulfur

6.      Alkali Flame Detector

7.      Electrolytic Conductivity Detector


G. REKORDER / PEREKAM

Digunakan untuk merekam hasil dari deteksi yang diberikan oleh detector, hasil rekaman ini berupa gambar kromatogram, dan ada yang sudah menggunakan unit prosesing komputer




III.             ANALISA KUALITATIF

Parameter yang paling penting untuk mengidetifikasi salah satu puncak adalah waktu retensi. Harus dibandingkan terhadap waktu retensi standart

IV. ANALISA KUANTITATIF
     
      Cara perhitungan

1.      Normalisasi luas
Dengan menghitung luas masing-masing puncak,kemudian dijumlahkan prosentase luas puncak adalah : luas puncak dibagi dengan jumlah luas puncak keseluruhan dikalikan 100 %. Ini dapat dilakukan dengan anggapan bahwa keseluruhan puncak dapat dipisahkan

2.      Menggunakan Faktor koreksi

3.      Menggunakan tinggi puncak
Jika puncak pada kromatogram sangat sempit, maka hanya diukur tinnginya saja, yaitu jarak dari dasar hingga puncak maksimum

4.      Tinggi puncak laki lebar setengah tinggi

5.      Luas segitiga

6.      Memotong dan menimbang kertas

7.      Menggunakan digital integrator